Kamis, 03 Maret 2016

Makna Sanggah Cucuk dan Prosesi Tawur Kesanga di Pakraman.


Sanggah cucuk berasal dari kata; sanggah = penyanggah/menopang, dan cucuk yang berarti pemucuk. Jadi dapat diartikan sanggah cucuk ini adalah pertemuan antara penyangga dan pemucuk,  sanggah cucuk berbentuk segi tiga. Selain itu fungsi sanggah cucuk adalah sebagai upasaksi dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya khususnya pecaruan
Dalam kaitannya dengan tawur agung kesanga, sanggah cucuk ini dipakai sebagai salah satu sarana upasaksi yang dipasang di samping lebuh atau sebelah kanan(dari dalam) pintu/kori  rumah.
Sedikit pengetahuan tentang tawur  kesanga, dapat dijelaskan bahwa tawur berasal dari kata nawur atau membayar (utang). Lalu kepada siapa kita membayar utang? Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada bhuta kala dalam tri rna termasuk dalam utang kepada dewa rna. Dari utang kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia di dunia ini. Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu (somya) dengan Sang Hyang Tunggal, maka dari itu pada mantram ngalukat bhuta disebutkan :
“Om lukat sira sang bhuta dengen masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring bhatara guru, lukat bhatara guru masurupanring sang hyang tunggal, lukat sang hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning pa-

ran, apan sang hyang sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah swaha”
Dikatakan tawur agung kesanga karena dilaksanakan serentak di seluruh daerah dan juga pada tilem caitra(sasih kesanga =9= angka tertinggi.) adalah tilem yang dianggap paling baik untuk melaksanakan bhuta yadnya.
Untuk pelaksanaan upacara tawur kesanga di Pakraman Br.Adat Tegenan Kelod, dibagi menjadi tiga bagian sebagai haturan kepada Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari. Berikut penjelasannya ;
1.   Nunas Tirta dan Nasi Taur di catus Pata/Margi Catur dengan bakti sakesidan  jam 12.00
2.   Jam 18.00 melaksanakan upacara Ngerupuk di rumah masing-masing bersama keluarga sbb.:
a.    Ngaturang bakti di Kemulan berupa pejati kalau bisa atau minimal rayunan putih kuning, ngunggahang tirta di Kemulan,di natar Merajan Kamulan ada sayut Byakala,Pemyak kala,Sesayut Lara Melaradan dan Prasista atau minimal ada sayut sudamala, dihaturkan segehan agung,nasi cacahan 11 tanding atau segehan manca warna, metabuh ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari, mantramnya :“Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”(mantram menyesuaikan dengan bantennya)
b.   Di pekarangan rumah dihaturkan segehan manca warna 9 tanding berisikan daging ayam brumbun , atau yang lebih sederhana 1 segehan berwarna 4 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara) , tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada Sang Kala Bhucari, mantramnya :“Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”(mantram menyesuaikan dengan persembahannya)
c.    Di lebuh rumah atau pintu pekarangan dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan(dari dalam). Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk +sujang (diisi air, arak & tuak/brem) Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.Di sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan manca warna 9 tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja. Selain itu juga dihaturkan segehan cacah 108 ulam jeroan mentah, segehan agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala. Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga. Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha.mantramnya :“Ih Durgha Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”
3.Usai ngaturang bakti dilanjutkan dengan mebuu/me-obor-obor serana prakpak,ketisang tirta taur,sebar nasi taur,kakap suna jangu,mesui,kulkul,sampat,sayut2(sekeluarga di natah rumah mesayut) dari merajan,keliling pekarangan 3 kali dan lebar di lebuh.
4.Mebakti/sembahyang bersama,Nunas Tirta lan wija di Sanggah/Merajan,malamnya persiapan nyanggra nyepi,besok pagi sebelum jam 06.00 sebaiknya melakukan sembahyang SURYA GRAHA  dengan banten wangi-wangian dan umbi-umbian(menurut Lontar Sundarigama) dan atau sakasidan (karena Nyepi pas Gerhana) laksanakan Catur Berata penyepian,upawasa,jangan sampai kita umat Hindu yang melanggar,bayangkan pemerintah sampai nutup bandara atau pelabuhan demi mengamankan Nyepi yang sudah dikenal dunia,sangat disayangkan sekali kalau kita sampai menodainya. Esok harinya,ngembak Gni menurut Kitab Sarasamuscaya dan Slokantara sangat baik melaksanakan Punia,mesuci laksana,meprasista dan menyucikan diri dengan mandi suci,karena alam dalam Sadasiti Mukha.setelah itu lakukan Dharma Santi,silahturahmi,bermaaf-maafan sesama saudara,keluarga besar dan warga sekitar.
  Mari kita maknai setiap upacara yang dilakukan dengan baik, karena dengan begitu setiap yadnya/demi yadnya kita laksanakan akan mengubah tata cara kita berpikir, berkata, dan perbuatan kita mengarah ke arah yang lebih baik(Manava Dharma Sastra III.97) . SWASTI ICAKA WARSA 1938,AMPURA MENAWI WENTEN IWANG,DUMOGI SAMI MANGGUH KENAK RAHAYU LAN DIRGAYUSA MEWASTU MANGGUH SANTHI JAGATITA. by; Prejuru Br. Adat Tegenan Kelod,E-mail: manix_gni@ yahoo.com/Mk.Manik Puspa Yoga.
 Suasana saat digelar taur kesanga di Catus Pata Desa pakraman Tegenan
Mk.Made Sedana Bendesa DP Tegenan,mengucapkan SELAMAT TH CAKA 1938,maaf lahir batin semoga sedaging jagat sami rahayu,Tegenan Santi,Bali damai,Indonesia Jaya,Dunia Tentram

 
Mk.Wayan Sudiana Ketua Kerta Desa menghaturkan Swasti icaka 1938,Basudeva kutumbakam,kita adalah saudara,jangan saling menyinggung,apalagi berantem mari laksanakan swadarma,smoga sami rahayu.
Tityang Prejuru Br.Adat Tegenan Kelod ngaturang swasti wanti icaka warsa 1938,dumadak sami rahayu ngiring uncarang kruna YUDHA AWIDYA NAROTTAMA (perangi kebodohan untuk menjadi manusia berguna),mari kita bersatu padu membangun desa,jangan sirik,hilangkan dengki dan tapaki tahun baru ini dengan nuansa baru,hati baru yang lebih bersih dan bermartabat,astungkara.
 

Jumat, 26 Februari 2016

NYANYIAN KESEMBUHAN




Cerita tentang terjunnya seorang siswa dari lantai tiga di sebuah sekolah SMA Negeri di Singaraja,gara-gara diputus pacar hingga meninggal,sempat menghebohkan Bali Pulau dewata sekitar pertengahan Agustus 2015 lalu.
Pesan spiritualnya sederhana,ketika pikiran kalut berjumpa dengan lingkungan yang tak stabil maka akan terjadi kecelakaan spiritual yang sangat berbahaya. Lingkungan tidak stabil bukan alasan untuk mengkritik ini dan itu,melainkan sebuah undangan atau isyarat semesta untuk memancarkan doa dan cahaya.
Di Pulau Bali yang dikagumi dunia (karena kedamaiannya) saja,lingkungan demikian gelap tidak dapat kita bayangkan seberapa gelap lingkungan di tempat lain. Sekali lagi inilah saatnya bagi jiwa-jiwa bercahaya untuk memancarkan cahaya, Diantara demikian banyak cara,maka ‘berkarma baiklah’ cara terindah untuk memancarkan cahaya. 
Dalam Sarasamuscaya disebutkan ‘apan iking menadi wong,uttama juga iya,nimitaning mangkana wenang iya tumulung awaknia ring Samsara,maka sedana çubakarmaartinya bersyukurlah kita hidup menjadi manusia,karena kita adalah mahluk utama, karenanya kita wajib menolong diri terlepasa dari samsara dengan cara berbuat baik atau berkarma baik.
Banyak cara dapat dilakukan berbuat baik, kalau kita tidak bisa memberi makan kepada pakir miskin,kita bisa lakukan dengan menyiram tanaman di rumah,sekolah atau dimana saja. Kalau tidak bisa menolong orang,kita bisa lakukan dengan menolong teman,bersahabat bertegur sapa dengan santun,mengucapkan salam dengan sesama secara tulus, tidak nakal apalagi bermusuhan sampai berkelahi.
Hati-hati menggunakan ‘kata’ karena kata bisa menjadikan sahabat dan bisa menjadikan permusuhan ‘lidah itu kecil tetapi besar akibatnya’ ,makian,kritik pedas yang tidak pada tempatnya,keluhan adalah bentuk kata yang menyebabkan kegelapan sebaliknya ucapan terimakasih,bersyukur,doa yang tulus dan kata-kata santun adalah contoh kata-kata  yang menyebarkan cahaya. Lebih dalam dari tindakan dan kata-kata adalah pikiran. Sebuah ladang dari mana tindakan dan kata-kata bertumbuh. Ia yang pikirannya indah cenderung menumbuhkan kata-kata sekaligus tindakan yang indah, itu sebabnya  meditasi (TM) adalah cara melatih fikiran agar selalu indah.
Pikiran yang tidak stabil penyebab bagi kecelakaan spiritual berbahaya seperti kejadian bunuh diri adalah buah dari karma yang panjang. Dalam studi-studi tentang karma ditulis;----‘mereka yang dikehidupan sebelumnya sering meminum atau mengkonsumsi miras,narkoba, alkohol dan sejenisnya,maka dikehidupan berikutnya cenderung memiliki pikiran yang mudah goyah’.

Dalam bahasa meditasi pikiran yang goyah adalah pikiran yang mudah hanyut, keter-singgungan, dendam,marah,sakit hati. Dengan meditasi pikiran yang hanyut dibawa berenang ke pinggir,terutama melalui kegiatan’menyaksikan’(compassionate witnesssing). Saat sedih datang saksikanlah,takala senang berlimpah saksikan,ketika pikiran merasa salah atau benar saksikan. Begitulah caranya berenang kepinggir agar tidak hanyut oleh sungai pikiran dan perasaan.
Bagi para sahabat/tendik dan anak-anak yang masih sangat labil ,terlalu peka,mudah luka disarankan untuk dekat dengan simbul-simbul alam yang berbagi sukacita, burung –burung yang bernyanyi,anak-anak balita yang bermain,suara germercik air,bunga-bunga bermekaran dengan wanginya, matahari dengan setia terbit diufuk timur tanpa pernah bosan,deburan ombak dipantai adalah sebagai contoh kecil nyanyian sukacita yang ada di alam.
Kemudian,belajar terhubung dengan energi sukacita yang ada di alam melalui kegiatan bersyukur serta berterimakasih,dalam bahasa sederhana tetapi dalam, ‘jika anda hanya punya satu kata yang diucapkan dalam doa…”terimakasih” sudah jauh lebih dari cukup.
Ia yang setiap hari mengucapkan kata terimakasih,maka setiap nafasnya mengumandangkan NYANYIAN KESEMBUHAN. Selamat melaksanakan!!!                                                   By.manixs

Melukat adalah salah satu kesadaran bahwa kita diselimuti kekotoran untuk dimurnikan (melukat di kaki Gunung Raung,Jawa Timur)
Mengucapkan syukur dengan Mebakti ke Pura Blambangan 
Menghaturkan rasa syukur melalui Tirta Yatra ke Pura Gumuk Kancil,Jatim bersama 
Keluarga SMPN 3 Rendang
Mendengarkan ceramah tentang Petirtan Pr.Gumuk Kancil di kaki Gunung Raung,Jatim