Kamis, 09 April 2026

Sejarah dan Peran Desa Karang dalam Struktur Sosial-Religius Desa Adat Tegenan, Pregunung Besakih

Abstrak

Desa Karang yang berada dalam wilayah Desa Adat Tegenan, Desa Pregunung Besakih, merupakan salah satu komunitas tradisional yang memiliki peran penting dalam sistem sosial dan keagamaan di kawasan Besakih. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul, perkembangan historis, serta fungsi religius Desa Karang, khususnya dalam kaitannya dengan tradisi pemelastian Ida Bhatara Besakih. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis narasi sejarah dan tradisi lisan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Desa Karang berakar dari komunitas Desa Pikulan yang memiliki tugas khusus dalam ritual keagamaan, yang hingga kini tetap dilestarikan secara turun-temurun.

Pendahuluan

Kawasan Besakih dikenal sebagai pusat spiritual utama di Bali yang memiliki sejarah panjang sejak masa awal perkembangan Hindu di pulau ini. Keberadaan desa adat di sekitarnya tidak hanya sebagai pemukiman, tetapi juga sebagai bagian dari sistem religius yang terstruktur, di mana masing-masing komunitas memiliki fungsi spesifik dalam mendukung pelaksanaan upacara keagamaan (Geertz, 1973; Lansing, 2006).

Desa Karang sebagai bagian dari Desa Adat Tegenan, Desa Pregunung Besakih, merupakan salah satu komunitas yang memiliki peran khas dalam struktur tersebut, terutama dalam kaitannya dengan pelaksanaan upacara pemelastian.

Latar Belakang Historis

Secara historis, perkembangan wilayah Besakih tidak dapat dilepaskan dari peran Maha Rsi Markandeya, seorang tokoh spiritual yang dalam berbagai lontar Bali disebut sebagai pelopor pembukaan hutan di wilayah pegunungan Bali melalui proses “merabas” (Ardana, 2008). Dalam proses tersebut, beliau menanam Pancadatu sebagai simbol keseimbangan kosmis yang kemudian menjadi dasar pembangunan Pura Basukian sebagai pusat spiritual awal di kawasan Besakih (Putra, 2015).

Beberapa abad kemudian, perkembangan pemukiman meluas ke arah selatan dan membentuk komunitas baru yang dikenal sebagai Desa Pikulan. Komunitas ini terdiri atas 33 kepala keluarga yang diberikan lahan pemukiman berupa pekarangan memanjang di sepanjang jalan desa. Pola pemukiman ini sesuai dengan konsep tata ruang desa tradisional Bali yang mengikuti orientasi kosmologis (Parimin, 1986).

Struktur Sosial dan Kepemimpinan

Desa Pikulan dipimpin oleh Ki Pasek Pikulan sebagai tetua adat yang menjalankan fungsi kepemimpinan secara turun-temurun. Sistem ini mencerminkan struktur sosial masyarakat Bali Aga maupun Bali tradisional yang berbasis pada garis keturunan dan fungsi religius (Geertz, 1973).

Kepemimpinan adat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara aspek sosial dan religius, serta memastikan keberlangsungan tugas-tugas sakral yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Fungsi Religius dan Tugas Adat

Ciri utama Desa Pikulan terletak pada tugas religius masyarakatnya, yaitu memikul atau “mundut” Ida Bhatara Besakih dalam pelaksanaan upacara pemelastian. Upacara pemelastian merupakan bagian penting dalam rangkaian ritual Hindu Bali yang bertujuan untuk penyucian simbol-simbol sakral (pratima) ke sumber air suci (Segara atau Beji) (Lansing, 2006).

Dalam konteks ini, pembagian tugas antar desa adat merupakan bagian dari sistem religius kolektif yang terorganisir. Desa Pikulan diberikan tanggung jawab khusus sebagai pengemban pratima, yang menunjukkan posisi penting mereka dalam struktur ritual Besakih.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Ki Pasek Pikulan secara pribadi memberikan akses terhadap lokasi pemelastian, berupa sebidang tanah yaitu Tegal Suci atau Taman Beji Tegal Suci. Tempat ini berfungsi sebagai ruang sakral untuk proses penyucian dan memiliki makna simbolis dalam konsep kesucian air dalam agama Hindu (Ardika, 2013).

Transformasi Menjadi Desa Karang

Seiring berjalannya waktu, komunitas Desa Pikulan berkembang dan mengalami transformasi identitas menjadi Desa Karang karena mendapat karang tempat tinggal sebaga ayahan mundut Ida Bhetara Besakih. Perubahan ini mencerminkan dinamika sosial yang tetap mempertahankan fungsi utama komunitas dalam sistem adat.

Meskipun terjadi perubahan nama, masyarakat Desa Karang tetap menjalankan tugas tradisionalnya, yakni mundut Ida Bhatara Besakih dalam setiap pelaksanaan upacara pemelastian. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan tradisi yang kuat dalam masyarakat Bali, khususnya dalam menjaga sistem ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun (Putra, 2015).

Kesimpulan

Desa Karang merupakan bagian integral dari sistem sosial dan religius di kawasan Besakih yang memiliki akar sejarah sejak masa Maha Rsi Markandeya. Berawal dari komunitas Desa Pikulan dengan tugas khusus dalam ritual keagamaan, Desa Karang berkembang menjadi entitas adat yang tetap mempertahankan fungsi sakralnya hingga kini. Keberadaan dan perannya mencerminkan kesinambungan tradisi, pembagian fungsi ritual antar komunitas, serta kuatnya nilai-nilai adat dalam kehidupan masyarakat Bali. Diharapkan komunitas ini tetap lestari dan mensyukuri anugrah yang diwariskan oleh leluhur untuk dijaga dan dilaksnakan amanat dan tugas mulia mensucikan Ida Bhetara besakih secara berkelanjutan dan tidak terpropokasi atas kepentingan politik praktis oleh segelintir orang yang berkepentingan mendominasikan egonya sendiri,astungkara rahayu,santi selamanya.(manixs)


Daftar Pustaka

Ardana, I. Ketut. 2008. Sejarah Perkembangan Hindu di Bali. Denpasar: Pustaka Bali.

Ardika, I Wayan. 2013. Warisan Budaya Perspektif Masa Kini. Denpasar: Udayana University Press.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Lansing, J. Stephen. 2006. Perfect Order: Recognizing Complexity in Bali. Princeton: Princeton University Press.

Parimin, Ardi. 1986. Fundamental Study on Spatial Formation of Island Village: Environmental Hierarchy of Sacred-Profane Concept in Bali. Osaka: Osaka University.

Putra, I Nyoman Darma. 2015. Kebudayaan Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.

Rabu, 08 April 2026

Sejarah Pura Dalem Putra Desa Adat Tegenan

Pura Dalem Putra yang terletak di Banjar Adat Tegenan Kelod merupakan salah satu pura penting dalam struktur Kahyangan Tiga Desa,Desa Adat Tegenan. Pura ini diperkirakan telah berdiri sebelum masuknya pengaruh Dang Hyang Dwijendra di Bali. Hal ini dapat dilihat dari tidak ditemukannya bangunan padmasana pada masa awal pendiriannya. Struktur awal pura hanya terdiri dari sebuah gedong bata sebagai bangunan utama serta empat bebaturan mengelilinginya, yang dipercaya sebagai tempat berstana pengabih Ida Betara Dalem,ditambah bangunan pendukung seperti bale gong dan bale pebatan. Barulah kemudian mulai tahun 1995 dengan klian baru mulai ditata dan dirintis direnovasi ditambah dengan bangunan penegtegan,bale pesanekan,bale peselang. Sasih kesanga tahun 2002 ada 9 orang kesurupan dari Banjar Adat Tegenan Kaler selama 42 hari salah satu petunjuknya adalah agar klian bersama krama pengempon melengkapi dengan mebangun pelinggih Taksun Jagat yang berupa Padmasana Ageng medasar Bedawangnala nyujur langit. Kemudian due-due yang berupa wayang,keris ,telek,jauk dan uang kepeng yang masih dirumah pribadi agar dikembalikan ke pura dan dibuatkan penyimpenan/gedong simpen untuk menyimpan duwen Ida Bhetara dan Telek,Jauk,petapakan Betara Prajapati agar diwujudkan kembali termasuk barong bangkung yang ada di Tulak Tanggul.

Di area pura juga terdapat dua pohon jepun Bali yang besar dan kokoh. Keberadaan pohon ini diyakini sebagai cikal bakal atau tonggak awal berdirinya Pura Dalem Putra.

Asal Usul Desa dan Perpindahan Pemukiman

Pada masa pemerintahan Raja Mayadenawa, pemukiman penduduk awal yang dikenal sebagai Desa Pikulan berada di wilayah utara, sekitar 2 km di selatan Dalem Puri yang disebut Kuuman Dalem. Kuburan (setra) masyarakat juga berada di wilayah tersebut.

Namun, akibat larangan Raja Mayadenawa terhadap praktik pemujaan kepada Tuhan, masyarakat kemudian berpindah ke arah selatan untuk mencari kebebasan beribadah. Di tempat baru ini, mereka membangun kembali pemukiman beserta Kahyangan Tiga, termasuk memindahkan setra dan mendirikan kembali Pura Dalem.

Pura Dalem yang baru ini kemudian dinamakan Pura Dalem Putra, sebagai bentuk kesinambungan atau keturunan dari Dalem lama di Kuuman Dalem. Dalem lama selanjutnya dikenal dengan sebutan Pura Dalem Suci, sedangkan Dalem yang baru disebut Dalem Putra. Wilayah pemukiman baru ini kemudian dikenal sebagai Tegenan Desa.

Perkembangan Masyarakat dan Desa Adat

Seiring berjalannya waktu, jumlah warga yang awalnya sekitar 33 kepala keluarga mendapatkan lahan pekarangan baru yang disebut Desa Karang. Masyarakat di wilayah ini memiliki kewajiban khusus, yaitu mundut Ida Bhatara di Besakih saat pelaksanaan upacara Melasti.

Jumlah penduduk kemudian berkembang menjadi sekitar 50 kepala keluarga. Dengan bertambahnya jumlah krama, masyarakat membangun Pura Puseh Bale Agung yang kemudian dikenal sebagai Desa Seket. Desa ini memiliki kewajiban ngempon Pura Puseh dan melaksanakan upacara di Ngusaba Nini di Pura Puseh dan Ngusaba Pitra di Dalem Suci. Sedangkan Ngusaba Tegen di Bale Agung dilaksanakan oleh krama banjar.

Peran Tiga Dadia Perintis

Terdapat tiga dadia utama yang merintis dan memegang peranan penting dalam struktur sosial dan keagamaan desa, yaitu:

  1. Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan (bergelar Pasek Kubayan)
    • Bertugas sebagai pemimpin desa (Kubayan)
    • Berperan sebagai pengambil keputusan utama (pemutus desa)
    • Memiliki kewajiban ngawa surat pepegat saat prosesi pemangku dan kelian meserah sampelan di Bale Agung, serta dalam pelaksanaan upacara ngaturang punagi.
    • Berwenang memutuskan pelaksanaan Pitra Yadnya di Ratu Dukuh ketika tidak terdapat sulinggih
  2. Dadia Penataran
    • Berperan sebagai juru guet (sekretaris desa)
  3. Dadia Pejenengan
    • Bertugas sebagai juru penyeneng atau pengelola wewantenan (sarana upacara)

Seluruh struktur, peran, dan kewajiban ini tercatat dalam lontar tanpa surat sebagai pedoman adat yang diwariskan secara turun-temurun.(manixs,dirangkum dari berbagai sumber)

 


Gedong Bata lingga Stana Bhetara Dalem Putra

 
4 buah pelinggih sebagai pengabih Bhetara Dalem (Ratu Wayan Tebeng/Md.Jelawung,Ratu Nyoman Sakti PEngadangan,ratu Ketut Petung dan ratu Ngrurah Tangkeb Langit)

 
Padmasana Bedawang Nala Agung nyujur langit,linggih Taksun Jagat

Bale Gong

Pesamuan

Perantenan dan Peebatan

Candi Bentar





Senin, 23 Maret 2026

CBD Bertransformasi Jadi “Cecingkreman duwe Bhatara Dalem” di Banjar Adat Tegenan Kelod

Program Community Based Development (CBD) di Desa Adat Tegenan kini resmi bertransformasi menjadi “Cecingkreman duwe Bhatara Dalem”. Hal tersebut disampaikan oleh I Wayan Suiji, Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, dalam kegiatan yang berlangsung pada Buda Cemeng Kelawu, 18 Maret 2026, di Pura Dalem Putra.

Suiji menjelaskan, program CBD pertama kali digulirkan pada tahun 2009 dengan total dana sebesar Rp100 juta untuk Desa Adat Tegenan . Dana tersebut kemudian dibagi ke dua banjar, di mana Banjar Tegenan Kelod menerima Rp50 juta.yang bersumber dari bantuan Bank Dunia kepada Pemerintah Provinsi Bali  bertujuan untuk,penanggulangan kemiskinan,pemberdayaan ekonomi krama(usaha produktif seperti penggemukan sapi dll) dan penguatan desa adat sebagai basis pembangunan.

Dana itu selanjutnya disalurkan kepada krama (warga) sebagai pinjaman untuk pembelian bibit sapi penggemukan, dengan bunga 0,5 persen per bulan yang dibayarkan setelah penjualan sapi. Program ini berjalan hingga sekitar tahun 2016.

Namun, pada periode 2017 hingga 2019, program mengalami kendala akibat musibah erupsi Gunung Agung serta pandemi COVID-19. Dampaknya, pengembalian dana menjadi terhenti. Meski sempat diberikan kebijakan keringanan berupa pembayaran hanya lima kali bunga, dana tersebut tetap tidak berhasil terkumpul selama kurang lebih 17 tahun.

Melihat kondisi tersebut, Suiji mengajukan izin kepada Bendesa Adat untuk menarik dana CBD dan menetapkannya sebagai aset Pura Dalem Putra yang diempon oleh Banjar Adat Tegenan Kelod.

Setelah melalui proses negosiasi dan berdasarkan berita acara serah terima dari ketua pengelola sebelumnya, I Made Gunarta, kepada pihak banjar adat, tercatat total saldo sebesar Rp58,3 juta.

Dana tersebut kemudian diluncurkan kembali dalam skema baru bertepatan dengan piodalan Ida Bhatara Dalem. Pada tahap awal, pinjaman diberikan kepada prajuru banjar sebagai peminjam wajib perdana, dengan plafon maksimal Rp5 juta per orang.

Adapun skema pinjaman yang diterapkan meliputi:

  • Suku bunga 12% per tahun (flat rate)

  • Suku bunga 18% per tahun (menurun)

  • Biaya administrasi 1%

  • Jangka waktu maksimal 20 kali cicilan

Menariknya, sistem pembayaran menggunakan kalender Bali, yakni satu bulan dihitung 35 hari, bukan 30 hari. Selain itu, peminjam yang telah melunasi cicilan sebanyak 20 kali akan mendapatkan cashback sebesar dua kali bunga, yang dapat ditabung atau dibelanjakan untuk kebutuhan dapur di KSP Mekar Sari sebagai mitra kerja sama.

Untuk persyaratan, pinjaman diberikan atas nama krama istri berusia di bawah 60 tahun atau jangkepan, dengan ketentuan:

  • Mendapat izin suami (diketahui suami-istri)

  • Memiliki pekerjaan

  • Jujur dan bertanggung jawab

  • Siap membayar tepat waktu

Ketentuan lain diatur lebih lanjut dalam AD/ART CBD. Apabila terjadi pelanggaran, peminjam akan dikenakan sanksi berupa denda hingga pengumuman di banjar.(manixs)

Penandatanganan Berita Acara Serah TErima

Disaksikan Jero Mk.Dalem Putra

Penyerahan CBD sebagai aset Pura Dalem Putra

Penandatanganan berita acara oleh jero Bendesa

Peluncuran pinjaman kepada salah seorang nasabah 




Jumat, 20 Maret 2026

Upacara Piodalan di Pura Dalem Tegenan Kelod Dirangkai Peluncuran Kredit CBD

Banjar Adat Tegenan Kelod, Desa Adat Tegenan, menggelar upacara piodalan di Pura Dalem setempat yang bertepatan dengan hari Buda Wage Tilem Kesanga. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran perdana Kredit CBD (Cecingkreman duwe Bhatara Dalem).

Rangkaian upacara telah dimulai sebelumnya, yakni pada Sabtu Kliwon Wayang, 14 Maret lalu, dengan pererainan Sanghyang Ringgit Duwe Bhatara Dalem. Keesokan harinya, krama lanang tedun untuk mempersiapkan berbagai sarana upakara piodalan.

Memasuki Selasa, 17 Maret, dilaksanakan kegiatan me-ebat atau meolahan sebagai bagian dari persiapan piodalan. Pada hari yang sama juga digelar upacara ngias petapakan Ida Bhatara, sekaligus nedunang Ida Bhatara Prajapati dan Tulak Tanggul ke Dalem, setelah prosesi mesesapuh dan ngadegang Ida Bhatara Dalem.

Puncak karya jatuh pada Rabu, 18 Maret. Pada pukul 08.00 WITA dilaksanakan upacara pemelastian, yang juga bertepatan dengan piodalan alit di Pura Goa Gala-Gala. Selanjutnya, pukul 11.00 WITA, upacara piodalan utama dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi.

Rangkaian upacara dilanjutkan dengan persembahan tari Rejang Dewa dan Baris Gede oleh Sekaha Seni Remaja Cita Werdhi binaan MK Ririn Susanti, serta Sekaa Gong Remaja DA Tegenan.

Upacara yang dilengkapi dengan banten bebangkit, sayut-sayut, serta caru manca sato. Kemudian dilanjutkan dengan mesoda ngaturing Dewa Hyang dan mepinton.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan peluncuran perdana Kredit CBD kepada 16 nasabah. Kelian Banjar Adat Tegenan Kelod, I Wayan Suiji, berharap program ini dapat berjalan lancar ke depannya,hingga SHU nya dapat digunakan meringankan beban masyarakat dalam beryadnya. Saya berharap komitmen warga banjar,karena saya berusha menghidupkan kembali CBD Desa Adat yang telah tidur belasan tahun,sekarang kita ubah polanya sebagai bentuk simpan pinjam dan menjadi aset Pura Dalem atau duwen Ida Bhetara Dalem sekaligus sebagai pelaba Pura Dalem disamping pelaba berupa tanah sawah. Mari kita kawal dan taati bersama aturan yang ada sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga pengelolaan CBD.ujarnya

Sementara itu,  Jero Ketut Wana Yasa Bendesa Desa Adat Tegenan dalam arahannya menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut. Ia menegaskan agar seluruh pihak berkomitmen menjaga dan mengawal program ini, mengingat kredit tersebut merupakan duwen Ida Bhatara Dalem.

“Jangan main-main, karena ini berkaitan dengan duwen Ida Bhatara. Jika dilanggar, bisa membawa konsekuensi karma buruk,dalam kehidupan kedepan” tegasnya.(manixs).


Persiapan upakara yadnya/me-olahan



Peluncuran perdana CBD (Cecingkreman duwe Bhetara Dalem)






















atas prosesi puncak piodalan Buda Cemeng KElawu ,18 Maret 2026


Pelaksanaan Penyineban Piodalan Bhetara Dalem,Dalem Prajapati,Gua Gala-Gala dan Pura Tulaktanggul.







Senin, 09 Maret 2026

Bangkitkan Kembali Dana CBD, Banjar Adat Tegenan Kelod Gelar Serah Terima di Pura Dalem Putra

Banjar Adat Tegenan Kelod kembali menginisiasi pertemuan sekaligus menggelar serah terima dana CBD (Community Based Development) sebagai tindak lanjut keputusan Paruman Agung Krama Banjar Adat Tegenan Kelod pada 7 Januari 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 8 Maret 2026 di Bale Pesanekan Pura Dalem Putra.

Dalam pertemuan tersebut diungkapkan bahwa dana CBD yang pada tahun 2009 mendapat bantuan sebesar Rp50 juta kini tercatat tersisa Rp58 juta dalam pengelolaannya. Ketua CBD lama, I Made Gunarta, menjelaskan bahwa perjalanan pengelolaan dana tersebut mengalami berbagai kendala sehingga banyak pinjaman yang macet. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain bencana alam seperti meletusnya Gunung Agung(2017) serta dampak pandemi Covid-19.

Acara serah terima ini disaksikan oleh Bendesa Desa Adat Tegenan, Penyarikan Desa, para prejuru banjar, Klian Subak Lipang, Klian Subak Abian, Klian Pura Manik Harum, Pemangku Pura Dalem, Pemangku Pura Gua Gala Gala dan Pemangku Pura Tulak Tanggul. Turut hadir pula sejumlah nasabah yang masih memiliki tunggakan pinjaman.

Kelian Banjar Adat Tegenan Kelod sekaligus Kelian Pura Dalem, I Wayan Suiji, selaku inisiator kebangkitan kembali dana tersebut, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program CBD merupakan bantuan pemerintah yang diberikan sejak tahun 2009. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pembangunan, menyesuaikan pembangunan dengan kebutuhan masyarakat, serta mendorong kemandirian komunitas desa atau banjar adat.

Menurutnya, dana tersebut sejatinya dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Namun karena selama kurang lebih 17 tahun tidak berjalan optimal, kini saatnya dibangkitkan kembali.

“Karena sudah lama terlelap, mari kita bangunkan kembali untuk kepentingan bersama. Dana ini saya minta kepada Jero Bendesa agar bisa digunakan untuk kepentingan Banjar Adat, khususnya di Pura Dalem,” seperti keputusan paruman agung Januari lalu,ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa CBD akan dimaknai kembali secara lokal dengan nama Cecingkreman duwe Bhatara Dalem, yang memiliki makna spiritual lebih mendalam serta diharapkan mendapat restu dari Ida Bhatara Dalem. Program Cecingkreman/SP tersebut rencananya akan diluncurkan pada hari Buda Wage Klau, bertepatan dengan piodalan Ida Bhatara. Ia juga meminta para prejuru yang hadir untuk ikut membantu meminjam dana tersebut agar perputaran dana dapat berjalan dengan baik.

Sementara itu, Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wanayasa, dalam arahannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Menurutnya, langkah yang diambil oleh Kelian Banjar Adat merupakan upaya tepat untuk mengamankan aset desa yang selama belasan tahun tidak berjalan.

“Aset desa berupa dana CBD yang sempat mati suri kini dibangkitkan kembali sebagai aset Banjar Adat, khususnya untuk Pura Dalem Putra. Saya selaku Bendesa merestui langkah ini,” ungkapnya.

Meski demikian, ia juga mengingatkan agar pengelolaan dana tetap memperhatikan kemungkinan adanya tuntutan laporan dari pemerintah, mengingat dana tersebut berasal dari program bantuan pemerintah, meskipun kini namanya diubah menjadi Cecingkreman duwe  Bhatara Dalem. Tolong buatkan regulasinya seperti perarem tentang tata cara peminjaman,suku bunga,termasuk sanksinya,agar berjalan tertib sehingga ada manfaat buat krama Banjar Adat Tegenan Kelod.

Ia berharap dengan restu Ida Bhatara serta dukungan krama banjar, program Cecingkreman duwe Bhetara Dalem ini dapat berjalan dengan baik ke depannya. Kepada warga yang masih memegang atau meminjam dana tersebut, ia juga mengimbau agar segera mengembalikannya dengan kesadaran sendiri.

“Kepada krama yang masih memegang atau meminjam, mohon dengan kesadaran diri segera mengembalikan duwen Ida Bhatara Dalem,” pungkasnya.(manixs)

Regestrasi peserta/Penandatanganan daftar hadir

Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Ketua CBD lama  I Made Gunarta

Serah terima pengelolaan CBD (Cecingkreman duwe Bhetara Dalem)

Vidio kegiatan serah terima pengelolaan CBD

Rabu, 28 Januari 2026

SMP Negeri 3 Rendang Lantik Pengurus OSIS di Pura Gua Gala-Gala

Media Manixgni– Bertepatan dengan hari suci Anggara Kasih Tambir, Selasa, 13 Januari 2026, SMP Negeri 3 Rendang melaksanakan pelantikan pengurus OSIS serta pengurus lembaga organisasi siswa lainnya. Kegiatan sakral tersebut berlangsung di Pura Gua Gala-Gala, Banjar Adat Tegenan Kelod.

Panitia pelaksana kegiatan, Ni Kadek Ririn Susanti, S.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi pelantikan di Pura Gua Gala-Gala merupakan bentuk pengenalan lingkungan sekaligus upaya mendekatkan siswa dengan alam spiritual.

“Jika jiwa manusia dilandasi dengan spiritual yang kuat, maka akan lahir generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan yang terpenting berkarakter atau berbudi pekerti luhur,” ujarnya.

Pembina kesiswaan SMP Negeri 3 Rendang, Ida Ayu Nyoman Okayani, S.Ag., menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi melukat sebagai simbol pembersihan diri dari segala mala atau kekotoran. Selanjutnya dilaksanakan persembahyangan bersama untuk memohon restu kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Gua Gala-Gala.

“Melalui persembahyangan ini, kami mohon agar anak-anak kami mendapatkan tuntunan dan jalan terang dalam melaksanakan tugas organisasi, meraih cita-cita, serta tumbuh menjadi anak-anak yang suputra,” harapnya.

Prosesi persembahyangan dipimpin oleh Jero Mangku Manik . Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan sejarah berdirinya Pura Gua Gala-Gala beserta manifestasi yang dipuja di tempat suci tersebut.

Menurut Jero Mangku Manik, Pura Gua Gala-Gala bermula sekitar tahun 1957, didirikan oleh seorang pengangon bebek yang kehilangan ternaknya. Dalam pencarian tersebut, ia menemukan sebuah goa yang di dalamnya terdapat sumber air luas menyerupai danau. Goa tersebut dikenal memiliki tiga rongga dengan suara gemuruh menyerupai ombak kecil dan disebut Danau Mengkeb. Ia berkaul bahwa apabila bebeknya ditemukan, maka akan dibangun bebaturan di lokasi tersebut.

Namun pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, bebaturan tersebut tertimbun lahar dingin. Pada tahun 1972 dilakukan penggalian kembali sumber mata air untuk dialirkan ke wilayah Rendang. Sejak saat itu, kerap terjadi kejadian-kejadian niskala seperti terdengar suara aneh dan penampakan ular besar, sehingga dibangunlah patung serta pelinggih.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 2002 terjadi peristiwa kesurupan massal di lokasi tersebut. Melalui pawisik, dititahkan pembangunan pura yang kemudian diberi nama Pura Gua Gala-Gala. Di pura ini distanakan Gedong Pengayengan Pura Dalem Puri Besakih, Betara Ananta Bhoga, serta Betara Sri Mas Amertha, dengan penglukatan Panca Amertha yang disimbolkan melalui lima pancuran.

Seiring waktu, banyak umat dari berbagai daerah seperti Singaraja, Gianyar, Badung, Kubu, Tambahan, Tajun, dan wilayah lainnya datang nangkil. Mayoritas umat menyampaikan bahwa kehadiran mereka berdasarkan petunjuk spiritual dari mapinunas.

Pura ini juga dikenal dengan sebutan Pura Langse sebagai gerbang gaib menuju Pura Dalem Puri Besakih. Bahkan, menurut seorang tokoh spiritual, terdapat konektivitas spiritual antara Goa Lawah, Gua Gala-Gala, dan Gua Raja. Di Goa Lawah umat nunas Hyang, kemudian melukat di Gua Gala-Gala sebelum nangkil ke Dalem Puri, dan selanjutnya ke Gua Raja untuk memohon tirtha amerta.

Usai kegiatan tersebut, Jero Mangku Manik juga memberikan dukungan moril kepada Ketua OSIS dengan menyerahkan sumbangan sekadarnya,mengingat beliau juga mantan keluarga besar SMPN 3 Rendang.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Rendang yang diwakili oleh Jero Mk. Komang Aristana, S.Pd., salah seorang guru spiritual, menyampaikan apresiasi kepada pengempon Pura Gua Gala-Gala yang telah memberikan tempat untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Ia berharap agar para pengurus OSIS sebagai calon pemimpin siswa mampu melaksanakan tugas dengan baik serta senantiasa mendapatkan tuntunan dari Tuhan Yang Maha Esa.(manixs)

Mk.manik mengucapkan selamat kepada salah satu pengurus lembaga siswa

 Memberi suport kepada ketua OSIS

Ida Ayu Nyoman Okayani,S.Ag Pembina kesiswaan saat memberi arahan
pada pengurus OSIS yang akan dilantik




Seka Teruna Werdhi Sesana Laksanakan Aksi Mereresik di Kawasan Pura Dalem Puri Besakih

Media Manixgni – Seka Teruna (ST) Werdhi Sesana Banjar Adat Tegenan Kelod melaksanakan kegiatan mereresik atau kerja bakti pada Selasa, 27 Januari 2026, pukul 15.00–18.00 WITA. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Pura Dalem Puri, Pura Agung Besakih, dan diterima langsung oleh Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Wayan Mastra.

Ketua ST Werdhi Sesana, I Wayan Puspa Yoga, S.Pet., didampingi Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program kerja seka teruna di bidang palemahan. Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan kerja bakti atau ngaturang ayah sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan alam.

“Melalui kegiatan ini, kami mengajak sekitar 45 orang anggota untuk turut berpartisipasi membersihkan sampah-sampah sisa canang pasca upacara Ngusaba Pitra di Pura Dalem Puri, terutama sampah plastik yang sangat merusak lingkungan. Kami berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan, dan kegiatan serupa rutin kami laksanakan setiap bulan, khususnya di wilayah Banjar Adat Tegenan Kelod,” ujar Yoga.

Ia menambahkan, kegiatan mereresik tersebut sekaligus merealisasikan tiga program kerja seka teruna, yakni bidang parhyangan dengan ngayah ring Ida Bhatara, bidang pawongan melalui sosialisasi dengan masyarakat Besakih serta pihak pengelola kawasan, dan bidang palemahan dengan menjaga kebersihan serta keasrian lingkungan.

Sementara itu, Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh para remaja desa. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud cinta terhadap desa adat sekaligus sebagai pembiasaan sebelum memasuki jenjang grihastha asrama.

“Dengan kegiatan seperti ini, generasi muda akan terbiasa dan siap mewarisi serta melanjutkan pelaksanaan adat istiadat ke depannya sebagai generasi penerus,” ujarnya.

Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Wayan Mastra, turut memberikan apresiasi atas partisipasi ST Werdhi Sesana dalam menjaga kebersihan lingkungan di kawasan Pura Besakih. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pelestarian adat, budaya, dan agama Hindu.

“Partisipasi generasi muda sangat diharapkan karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Semoga langkah kecil ini memberikan arti dan pengalaman yang baik bagi adik-adik kita sebagai penerus generasi Bali ke depan,” tutupnya.(manixs)





Dokumen aktivitas ngayah

Foto bareng usai kegiatan