Rabu, 28 Januari 2026

SMP Negeri 3 Rendang Lantik Pengurus OSIS di Pura Gua Gala-Gala

Media Manixgni– Bertepatan dengan hari suci Anggara Kasih Tambir, Selasa, 13 Januari 2026, SMP Negeri 3 Rendang melaksanakan pelantikan pengurus OSIS serta pengurus lembaga organisasi siswa lainnya. Kegiatan sakral tersebut berlangsung di Pura Gua Gala-Gala, Banjar Adat Tegenan Kelod.

Panitia pelaksana kegiatan, Ni Kadek Ririn Susanti, S.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi pelantikan di Pura Gua Gala-Gala merupakan bentuk pengenalan lingkungan sekaligus upaya mendekatkan siswa dengan alam spiritual.

“Jika jiwa manusia dilandasi dengan spiritual yang kuat, maka akan lahir generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan yang terpenting berkarakter atau berbudi pekerti luhur,” ujarnya.

Pembina kesiswaan SMP Negeri 3 Rendang, Ida Ayu Nyoman Okayani, S.Ag., menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi melukat sebagai simbol pembersihan diri dari segala mala atau kekotoran. Selanjutnya dilaksanakan persembahyangan bersama untuk memohon restu kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Gua Gala-Gala.

“Melalui persembahyangan ini, kami mohon agar anak-anak kami mendapatkan tuntunan dan jalan terang dalam melaksanakan tugas organisasi, meraih cita-cita, serta tumbuh menjadi anak-anak yang suputra,” harapnya.

Prosesi persembahyangan dipimpin oleh Jero Mangku Manik . Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan sejarah berdirinya Pura Gua Gala-Gala beserta manifestasi yang dipuja di tempat suci tersebut.

Menurut Jero Mangku Manik, Pura Gua Gala-Gala bermula sekitar tahun 1957, didirikan oleh seorang pengangon bebek yang kehilangan ternaknya. Dalam pencarian tersebut, ia menemukan sebuah goa yang di dalamnya terdapat sumber air luas menyerupai danau. Goa tersebut dikenal memiliki tiga rongga dengan suara gemuruh menyerupai ombak kecil dan disebut Danau Mengkeb. Ia berkaul bahwa apabila bebeknya ditemukan, maka akan dibangun bebaturan di lokasi tersebut.

Namun pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, bebaturan tersebut tertimbun lahar dingin. Pada tahun 1972 dilakukan penggalian kembali sumber mata air untuk dialirkan ke wilayah Rendang. Sejak saat itu, kerap terjadi kejadian-kejadian niskala seperti terdengar suara aneh dan penampakan ular besar, sehingga dibangunlah patung serta pelinggih.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 2002 terjadi peristiwa kesurupan massal di lokasi tersebut. Melalui pawisik, dititahkan pembangunan pura yang kemudian diberi nama Pura Gua Gala-Gala. Di pura ini distanakan Gedong Pengayengan Pura Dalem Puri Besakih, Betara Ananta Bhoga, serta Betara Sri Mas Amertha, dengan penglukatan Panca Amertha yang disimbolkan melalui lima pancuran.

Seiring waktu, banyak umat dari berbagai daerah seperti Singaraja, Gianyar, Badung, Kubu, Tambahan, Tajun, dan wilayah lainnya datang nangkil. Mayoritas umat menyampaikan bahwa kehadiran mereka berdasarkan petunjuk spiritual dari mapinunas.

Pura ini juga dikenal dengan sebutan Pura Langse sebagai gerbang gaib menuju Pura Dalem Puri Besakih. Bahkan, menurut seorang tokoh spiritual, terdapat konektivitas spiritual antara Goa Lawah, Gua Gala-Gala, dan Gua Raja. Di Goa Lawah umat nunas Hyang, kemudian melukat di Gua Gala-Gala sebelum nangkil ke Dalem Puri, dan selanjutnya ke Gua Raja untuk memohon tirtha amerta.

Usai kegiatan tersebut, Jero Mangku Manik juga memberikan dukungan moril kepada Ketua OSIS dengan menyerahkan sumbangan sekadarnya,mengingat beliau juga mantan keluarga besar SMPN 3 Rendang.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Rendang yang diwakili oleh Jero Mk. Komang Aristana, S.Pd., salah seorang guru spiritual, menyampaikan apresiasi kepada pengempon Pura Gua Gala-Gala yang telah memberikan tempat untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Ia berharap agar para pengurus OSIS sebagai calon pemimpin siswa mampu melaksanakan tugas dengan baik serta senantiasa mendapatkan tuntunan dari Tuhan Yang Maha Esa.(manixs)

Mk.manik mengucapkan selamat kepada salah satu pengurus lembaga siswa

 Memberi suport kepada ketua OSIS

Ida Ayu Nyoman Okayani,S.Ag Pembina kesiswaan saat memberi arahan
pada pengurus OSIS yang akan dilantik




Seka Teruna Werdhi Sesana Laksanakan Aksi Mereresik di Kawasan Pura Dalem Puri Besakih

Media Manixgni – Seka Teruna (ST) Werdhi Sesana Banjar Adat Tegenan Kelod melaksanakan kegiatan mereresik atau kerja bakti pada Selasa, 27 Januari 2026, pukul 15.00–18.00 WITA. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Pura Dalem Puri, Pura Agung Besakih, dan diterima langsung oleh Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Wayan Mastra.

Ketua ST Werdhi Sesana, I Wayan Puspa Yoga, S.Pet., didampingi Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program kerja seka teruna di bidang palemahan. Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan kerja bakti atau ngaturang ayah sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan alam.

“Melalui kegiatan ini, kami mengajak sekitar 45 orang anggota untuk turut berpartisipasi membersihkan sampah-sampah sisa canang pasca upacara Ngusaba Pitra di Pura Dalem Puri, terutama sampah plastik yang sangat merusak lingkungan. Kami berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan, dan kegiatan serupa rutin kami laksanakan setiap bulan, khususnya di wilayah Banjar Adat Tegenan Kelod,” ujar Yoga.

Ia menambahkan, kegiatan mereresik tersebut sekaligus merealisasikan tiga program kerja seka teruna, yakni bidang parhyangan dengan ngayah ring Ida Bhatara, bidang pawongan melalui sosialisasi dengan masyarakat Besakih serta pihak pengelola kawasan, dan bidang palemahan dengan menjaga kebersihan serta keasrian lingkungan.

Sementara itu, Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh para remaja desa. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud cinta terhadap desa adat sekaligus sebagai pembiasaan sebelum memasuki jenjang grihastha asrama.

“Dengan kegiatan seperti ini, generasi muda akan terbiasa dan siap mewarisi serta melanjutkan pelaksanaan adat istiadat ke depannya sebagai generasi penerus,” ujarnya.

Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Wayan Mastra, turut memberikan apresiasi atas partisipasi ST Werdhi Sesana dalam menjaga kebersihan lingkungan di kawasan Pura Besakih. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pelestarian adat, budaya, dan agama Hindu.

“Partisipasi generasi muda sangat diharapkan karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Semoga langkah kecil ini memberikan arti dan pengalaman yang baik bagi adik-adik kita sebagai penerus generasi Bali ke depan,” tutupnya.(manixs)





Dokumen aktivitas ngayah

Foto bareng usai kegiatan


Rabu, 07 Januari 2026

Paruman Agung Banjar Adat Tegenan Kelod Tetapkan Pengurus Masa Bakti 2025–2030

Karangasem— Banjar Adat Tegenan Kelod, Desa Adat Tegenan, pada Buda Wage Merakih, Selasa (6/1/2026), menyelenggarakan Paruman Agung dalam rangka pergantian pengurus (prejuru) untuk masa bakti 2025–2030. Paruman ini dilaksanakan menyusul wafatnya bendahara lama Banjar Adat Tegenan Kelod I Made Entegan.

Dalam paruman tersebut, Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, I Wayan Suiji, memaparkan laporan program kerja lima tahun sebelumnya hingga tahun 2025, sekaligus menyampaikan laporan keuangan banjar yang disimpan di KSP Mekar Sari. Adapun rincian dana tercatat dalam enam rekening, yakni Rekening Krama Banjar Jangkepan sebesar Rp59.206.000, Rekening Banjar Adat Rp15.486.000, Dana Gua Gala-Gala Rp518.000, Dana Tulak Tanggul Rp4.560.000, Kontribusi Telaga Surya Rp16.447.000, serta saldo Dana Punia sebesar Rp9.565.000.

Selanjutnya disampaikan pula program kerja masa bakti 2025–2030. Pada bidang Parhyangan, program diarahkan pada penyederhanaan upakara sesuai pelutuk bebantenan serta pelaksanaan upacara berdasarkan tingkatan nista, madya, dan utama.

Pada bidang Pawongan, direncanakan penataan keorganisasian banjar, penyusunan perarem khususnya terkait duktang, serta pengumpulan dana abadi melalui program Cingkreman Babuatan Desa (CBD) khusus krama istri. Program ini diharapkan dapat meringankan biaya operasional upacara serta membantu dana pendidikan berupa beasiswa bagi anak-anak cerdas dari keluarga kurang mampu.

Sementara itu, pada bidang Palemahan, direncanakan sejumlah pembangunan fisik secara bertahap, yakni pembangunan Jalan Arca Gua Gala-Gala pada tahun 2026, renovasi Pesamuan pada 2027, pembangunan tembok utara pada 2028, renovasi Penegtegan pada 2029, serta pembelian tiga unit jempana pada tahun 2030.

Dalam sesi pergantian pengurus, krama Banjar Adat Tegenan Kelod secara kompak menolak pergantian Klian Banjar. Melalui musyawarah mufakat, I Wayan Suiji kembali ditetapkan sebagai Klian Banjar Adat, demikian pula Penyarikan tetap dijabat oleh pengurus lama. Pergantian hanya dilakukan pada posisi bendahara karena bendahara sebelumnya telah meninggal dunia. Setelah sejumlah kandidat menolak, akhirnya secara mufakat I Made Warsa Wardana disepakati mengisi jabatan bendahara.

Bendesa Adat Tegenan, Jero Ketut Wana Yasa, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada prejuru lama atas dedikasi dan pengabdiannya. Ia juga mengucapkan selamat bekerja kepada pengurus yang dikukuhkan agar senantiasa ngayah nekeng tuas dalam menjalankan tugas.

Pada kesempatan tersebut, Bendesa Adat sekaligus mengukuhkan Prejuru Banjar Adat Tegenan Kelod dan Prejuru Pura Dalem masa bakti 2025–2030 dengan susunan sebagai berikut: Pemangku Pura Dalem dijabat oleh Jero Mangku Wayan Sulabayasa, Pemangku Wayang Telek dan Pura Gua Gala-Gala oleh Jero Mangku Dalang Sujata, Klian Banjar I Wayan Suiji, Penyarikan I Nyoman Selahdana, dan Juru Raksa I Made Warsa Wardana.

Adapun Juru Arah Tempek terdiri dari Tempek Lemo dijabat I Komang Gede Arta, Tempek Dauh Margi oleh I Made Suartana, Tempek Poh Tanggul oleh I Made Bakat Adnyana, serta Tempek Dangin Margi oleh Guru Wayan Wenten.tegas bendesa I Ketut Wana Yasa.(manixs)


Sambutan Bendesa I Ketut Wana Yasa
Pengukuhan Prejuru 2025-2030



Rabu, 24 September 2025

Rapat Persetujuan Pemberhentian Klian Banjar Dinas Tegenan

Tegenan, Desa Menanga —24 September 2025, Bertempat di pelataran Pura Dalem Putra, telah dilaksanakan rapat penting yang membahas kepastian persetujuan krama (warga) terkait pemberhentian Klian Banjar Dinas Tegenan, I Gede Tangkas. Rapat ini dipimpin oleh Kepala Desa Menanga yang diwakili oleh Plt. Klian Banjar Dinas Tegenan, Ni Wayan Sulandri.

Dalam rapat tersebut, Ni Wayan Sulandri menyampaikan permintaan tegas kepada seluruh krama untuk memberikan kepastian dan persetujuan secara serempak mengenai pemberhentian permanen I Gede Tangkas sebagai Klian Banjar Dinas Tegenan. Hal ini terkait kasus dugaan penggelapan dan penyerobotan tanah milik warga yang saat ini masih dalam proses hukum.

Turut hadir dalam rapat tersebut antara lain perwakilan dari BPD Desa Menanga yang juga Bendesa Desa Adat Tegenan I Ketut Wana Yasa beserta tokoh masyarakat lainnya. Dalam penyampaiannya, I Ketut Wana Yasa menjelaskan kronologi serta proses hukum yang sedang dihadapi oleh I Gede Tangkas, termasuk telah dikeluarkannya surat rekomendasi pemberhentian sementara oleh Bupati Karangasem. Namun, karena belum ada putusan hukum yang inkrah (berkekuatan hukum tetap), maka status pemberhentian masih bersifat sementara.

Meski demikian, demi kepastian pelayanan administrasi di Banjar Dinas Tegenan, warga diminta untuk menyatakan sikap dan ketegasan:  sekali lagi saya selaku BPD bertanya,Apakah warga yakin dan setuju untuk memberhentikan Klian Dinas secara permanen?. Pertanyaan tersebut dijawab serempak oleh warga dengan pernyataan tegas: “Yakin dan harus diberhentikan.”

Warga berharap agar segera diangkat Klian Banjar Dinas yang definitif, guna menjamin kelancaran pelayanan surat-menyurat dan urusan administratif lainnya di wilayah Banjar Dinas Tegenan.

Rapat berlangsung dengan lancar dan kondusif. Keputusan warga ini diharapkan menjadi dasar kuat bagi Pemerintah Desa dalam mengambil langkah berikutnya sesuai prosedur hukum dan administratif yang berlaku.(manixs)



Minggu, 21 September 2025

“Werdhi Sesana ,Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita dari Blar Blar Blar”

Karangasem ,18 September 2025– Sekaa Teruna (ST) Werdhi Sesana Banjar Adat Tegenan Kelod melaksanakan kegiatan gotong royong bersih lingkungan dengan tema "Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita dari Blar Blar Blar", pada Minggu pagi, dimulai pukul 07.30 WITA.

Aksi bersih-bersih ini dimulai dari depan Balai Desa Adat Tegenan menyusuri Jalan Raya Besakih hingga ke Permandian Lembah Arca dan Pura Gua Gala-Gala, dengan jarak tempuh sekitar 2 kilometer. Dengan peralatan sederhana seperti kampil (karung), para peserta berhasil mengumpulkan hampir 7 kampil sampah plastik.

Sayangnya, di sepanjang rute ditemukan banyak sampah plastik seperti bungkus snack dan yang lebih memprihatinkan, popok sekali pakai (pempers) yang dibuang sembarangan ke saluran got. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Kalau hujan turun, apalagi lebat, saluran tersumbat, banjir pasti terjadi. Pemukiman hancur, saling salah-salahan, saling menghujat. Terus yang benar siapa? Mestinya kita mawas diri, jangan cari kambing hitam,” keluh Ketua ST. Werdhi Sesana, I Wayan Puspa Yoga S.Pet, yang juga sedang menempuh pendidikan S2.

Lebih lanjut, ia menyoroti perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, bahkan dari mobil mewah maupun diam-diam di malam hari. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi terhadap sampah yang kita hasilkan.

Usai kegiatan, Made Agus Suciarta, pengelola Permandian Lembah Arca, sebagai sponsor kegiatan, memberikan snack gratis kepada seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi.

Turut hadir dan memberikan dukungan dalam kegiatan ini adalah Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, I Wayan Suiji. Dalam arahannya, beliau menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada ST. Werdhi Sesana atas inisiatif menjaga kebersihan lingkungan.

“Apa yang dilakukan anak-anak ST ini adalah bentuk yadnya terhadap semesta. Kalau kita baik pada alam, maka alam pun akan bersahabat dengan kita. Saya mengimbau kepada para orang tua agar terus memotivasi anak-anaknya untuk aktif dalam kegiatan positif seperti ini,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi contoh dan penyemangat bagi masyarakat lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan demi masa depan yang lebih baik.(manixs)






Jumat, 29 Agustus 2025

KEPERGIAN MENDADAK PAK NOEKARSI YANG DIKENAL ULET DAN BAIK HATI

Di sebuah desa kecil yang damai, duka tiba-tiba menyelimuti keluarga sederhana dari seorang tukang bangunan bernama Noekarsi. Sosok yang dikenal rajin dan bersahaja ini meninggal dunia secara mendadak pada dini hari, padahal baru kemarin sore ia masih terlihat sehat dan semangat bekerja membangun rumah tetangga.

Pak Noekarsi meninggalkan seorang istri, Miyut, dan tiga orang anak yang masih membutuhkan banyak bimbingan. Anak sulung mereka, Selvi, baru duduk di kelas X SMK jurusan kuliner. Adiknya, seorang siswi kelas V SD, dan si bungsu, seorang anak laki-laki yang baru berusia tiga tahun. Kehilangan ini terasa sangat berat bagi keluarga kecil ini, terlebih karena Pak Noekarsi selama ini adalah tulang punggung keuarga mereka.

Peristiwa duka itu terjadi pada pukul 03.15 pagi. Pak Noekarsi tiba-tiba mengeluh sesak napas yang hebat. Ia terbangun dalam kondisi tersengal-sengal, sulit bernapas. Miyut yang panik segera meminta bantuan warga dan membawa suaminya ke puskesmas terdekat. Namun, takdir berkata lain. Setibanya di puskesmas, nyawa Pak Noekarsi tak dapat diselamatkan. Hari itu juga, ia dimakamkan dengan penuh duka di pemakaman desa.

Malam harinya, rumah duka dipenuhi warga desa. Semua berkumpul, turut berbelasungkawa, menemani keluarga yang sedang berduka. Suasana begitu haru. Banyak yang tak kuasa menahan air mata, terlebih melihat kondisi Miyut dan ketiga anaknya. “Kasihan dia, harus kuat mengurus tiga anaknya sendirian,” ujar  Pak Wahono, kepala desa, dengan nada prihatin.

Di antara para tamu malam itu, hadir pula seorang tokoh desa yang sangat dihormati, Ki Manteb, seorang tumenggung desa. Ia memanggil Selvi, si sulung yang sejak pagi tak berhenti menangis. Dengan suara tenang namun penuh wibawa, Ki Manteb menasehati Selvi. ....“Nak Selvi, kuatkan hatimu. Memang berat, bapakmu sudah pergi dan tak akan kembali. Tapi kamu harus bangkit. Kamu adalah yang paling besar sekarang. Kamu harus menjaga ibu dan kedua adikmu. Jangan menyerah. Teruskan sekolahmu. Aku dan group Braya Santhi akan membantu membayar biaya sekolahmu sampai kamu lulus. Tapi kamu harus janji untuk rajin belajar dan menjadi anak yang berguna.”

Selvi mengangguk pelan sambil menyeka air matanya. Suasana malam itu penuh keheningan, namun juga mengandung semangat baru. Duka masih terasa dalam, tapi harapan mulai tumbuh kembali di tengah keluarga yang ditinggalkan.

Catatan:
Cerita ini adalah kisah nyata yang mengandung nilai ketegaran, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong yang masih kuat hidup di tengah masyarakat desa. Semoga menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya, bahwa dalam musibah selalu ada cahaya pengharapan.(manixs)

Minggu, 17 Agustus 2025

TATACARA MEMANDIKAN JENAZAH/LAYON

 Om Swastyastu,

Urutan Nyiramang Layon:

  • Pertama-tama rambut sawa dikramasi dengan ambuh(yeh bejekan daun pucuk). Setelah itu rambutnya disisir, lalu dibersihkan dengan air biasa, rambutnya kembali disisir diberi minyak wangi, Mantra:OM banyu kelamukan banyu patra, pamunah papa klesa danda upata ya namah swaha.
  • Gigi sawa  dibersihkan menggunakan sigsig, Sigsig adalah terbuat dari jajan begina yang dibakar hingga menjadi arang, inilah yang dipergunakan untuk membersihkan gigi sang layon/sawa.Mantra:Om Waja suddha spathika dhanta ya namah swaha.
  • Tubuh diurapi dengan beblonyoh/parem(bedak/boreh) yang bahannya dari beras,terdiri dari dua macam beblonyoh, berwarna kuning dan berwarna putih, yang putih diurapkan pada tubuh bagian atas dan yang kuning diurapkan pada tubuh bagian bawah, lalu disiram dengan air biasa, serta dengan air kumkuman mewadah bonjor dari hulu 1 dari teben 1 ,Mantra: Om Paripurna ya namah swaha.
  • Tubuh layon yang masih basah dikeringkan dengan handuk serta disasapi dengan benang tukelan, Mantra: Om Pretama sudha, dwityasuddha,triti suddha, caturti suddha,suddha,suddha wari astu ya namah.
  • Seluruh tubuh layon digosok dengan Sikapa, yaitu umbi gadung yang telah dikupas kulitnya, setelah digosokan dibuang dibawah kolong tempat memandikan layon. Mantra; Om Sikapa pamulune sang sampun lampus lempung lembut ya namah.
  • Telor. Dari kepala hingga ke kaki di gelindingkan/digulirkan sebutir telor ayam, lalu telor ayam di buang dibawah kolong tempat memandikan layon. Tujuannya untuk menghilangkan sagala mala traya sang Pitra.Mantra; Om Anda pamarisuddha sarwa bhuta ya namah.
  • Mawastra/mabusana, layon/sawa dipakaikan busana layaknya orang hidup,setelah selesai dipakaikan busana, letakkan rantasan pada dada layo, canang sari serta kawangen berisi uang kepeng 11 kepeng,sebagai sthana Sang Hyang Atma.
  • Setrelah selesai memakai busana selengkapnya ,lalu dipercikkan tirtha Pabresihan, Bayakaon dan semua banten pengresikan yang telah disediakan, lalu percikkan tirtha panglukatan, setelah selesai memercikan tirtha panglukatan,dibawa kesekenem (kalau mepenanjen) diteruskan dengan menyuguhkan banta saji/tataban yang telah tersedia, sesudah selesai natab lalu dipercikkan tirtha Kamulan. Setelah itu baru paratisentana/keluarganya menghaturkan sembah sujud kehadapan sang Pitara. Hendaknya dalam melaksanakan sembah sujud kehadapan sang Pitra dipimpin oleh seorang Pinandita/Manku. Tatanan Sembah Bhakti 1. Puyung, 2, Ke Surya, 3.Kemulan-kawitan Ke Prajapati, 4 ke Sang Pitra(kwangi dikupmulkan). 5,Puyung.

            Setelah semua keluarganya melakukan sembah sujud kehadapan sang Pitra, barulah dilanjutkan dengan memasang alat-alat(eteh-eteh) pangringkesan;

 

TATANING PANGRINGKESAN LAYON.

  • Gegalengnya yang terbuat dari byukayu 9 biji,jinah gegaleng 225 keteng, carang dapdap 3 tugel/potong, lalu diikat dengan benang selem, dipasang/ditaruh dibawah kepala.

·       Daun intaran ditaruh di kedua alis layon.

·       Kaca/meka ditaruh pada kedua mata layon.

·       Pusuh menuh ditaruh pada kedua lubang hidung layon.

·       Malem ditaruh pada kedua lubang kuping layon.

·       Waja pada gigi layon.

·       Sari kuning pada pipi layon.

·       Buah pala pada bahu kiri dan kanan layon.

·       Katik cengkeh pada dada kanan layon.

·       Jebugarum pada dada kira layon,

·       Masuwi pada hulu hati layon.

·       Kawangen berisi daun dapdap 2 muncuk,uang kepeng 11 kepeng,diletakkan pada ubun-ubun menghadap kebawah.

·       Kawangen berisi daun dapdap 2 muncuk uang kepeng 11 kepeng, diletakkan pada tengah-tengah susu(selagan susune),mengahadap keatas.

·       Kawangen berisi bunga tunjung serta uang kepeng 9 kepeng,diletakkan pada hulu hati menhadap keatas.

·        Dua buah kawangen berisi pusuh bunga cempaka putih 5 biji, uang kepeng 5 kepeng pada tiap-tiap kawangen diletakkan pada jari-jari tangan.

·       Dua buah kawangen brisi pusuh bunga cemapaka kuning 5 biji serta uang kepeng 5 kepeng pada tiap-tipa kawangen,diletakkan pada jari kaki.

·       Kawangen berisi uang kepeng 11 kepeng tiap-tiap kawangen diletakkan pada sendi-sendi(buku-buku).

·       Permata mirah (momon) diletakkan pada mulut layon.

·       Pagemalan diletakkan pada kedua tangan layon. Serta kukunya  tangan dan kakinya di kerik.

·       Setelah semua piranti pangringkesan terpasang,pada muka(prerai) layon ditutup dengan kain putih yang sudah ditulis(dirajah) sebagai panekep mukha, setelah itu lalu dilanjutkan dengan memercikan tirtha pangrikesan. Setelah itu layon/sawa lalu dibungkus dengan daun pisang Kaikik serta kain pengulungannya, kalau laki-laki menutupnya dari kanan, kalau perempun menutupnya dari kiri, setelah itu lalu digulung dengan Ante, ditutup dengan kain putih,setelah itu baru dimasukkan kedalam peti mati. Diatas peti di letakkan kain leluwur yang dipakai pada saat nyiramang layon

Pengaksama saking Klian Banjar Adat

Pengaksama (riwayan hidup-meninggal),memohonkan maaf saking Kulawarga lan doa

Persiapan Ke setra,nyalakan prakpak--->Jalan

TATANAN NGEMARGIANG TIRTHA PENGENTAS RING SETRA.

Pertama-tama layon diturunkan pada tempat pembakaran/pemalungan, lalu dientas dengan pisau pengentas sampai kelihatan layonnya, setelah itu turunkan kajang, letakkan diatas layon lalu entas dengan pisau pengentas, lalu kajangnya di buka, setelah itu letakkan adegannya dihulu kajang/layon, Ponjennya letakkan ditengah2/dada. Serta Panetehnya di letakkan di atas perut.

Setelah semuanya sudah diletakkan barulah memulai dengan memercikan/nyiratang tirtha, diawali dengan tirtha Panembak, diteruskan dngan tirtha pinunas ring Mrajan, Ibu, Panti,Kawitan dan diteruskan dengan tirtha Prajapati serta tirtha Dalem Kahyangan, setelah semua tirtha pinunas dijalankan barulah terakhir dipercikkan/siratan tirtha Pengentas, setelah selesai barulah memulai pembakaran layon, di barengi dengan doa oleh keluarga dan masyarakat.

Sekianlah tatacara membersihkan sawa/layon dan tatacara Pengringkesan sawa/layon serta tatanan ngermargiang tirtha Pangentas yang dapat saya persembahkan. Semoga adan manfaatnya bagi kita semua didalam melaksanakan kewajiban kita sebagai umat Hindu.

 

OM   Sathi   Santhi    Santhi     Om

Penyunting :Manixs. 

 

Nara sumber : Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda.

Griya Kutuh-Kuta.