Abstrak
Artikel ini membahas sejarah berdirinya Pura Puseh Bale Agung di Desa Adat Tegenan yang memiliki keterkaitan erat dengan perpindahan pusat permukiman desa dari wilayah utara ke selatan. Kajian ini menyoroti struktur ruang desa berdasarkan konsep Tri Mandala, peran kelompok masyarakat awal, serta kontribusi tiga dadia utama dalam pembangunan pura dan sistem religius yang berkembang di dalamnya.
Pendahuluan
Desa Adat Tegenan merupakan salah satu desa di Bali yang mempertahankan sistem sosial, budaya, dan religius tradisional yang khas dan relatif banyak mengalami pengaruh Majapahit (Geertz, 1980; Covarrubias, 1937). Salah satu unsur penting dalam struktur religius desa ini adalah keberadaan Pura Puseh sebagai pusat pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu (Ardika, 2013).
Sejarah Awal Desa
Pada masa awal, Desa Adat Tegenan dikenal dengan nama Desa Pikulan yang berlokasi di bagian utara wilayah desa, tepatnya di kawasan Kuuman Dalem, yaitu di selatan Pura Dalem Puri. Tradisi lisan menyebutkan bahwa desa ini mengalami gangguan keamanan yang mendorong perpindahan masyarakat ke arah selatan (Reuter, 2002).
Perpindahan ini diikuti dengan penataan ruang desa berdasarkan konsep kosmologis Bali, yaitu Tri Mandala, yang membagi ruang menjadi tiga zona:
Utama Mandala sebagai area suci (parhyangan),
Madya Mandala sebagai kawasan permukiman,
Nista Mandala sebagai area kuburan (cetra) (Eiseman, 1990).
Konsep ini merupakan refleksi dari sistem kepercayaan Hindu Bali yang mengatur keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (Lansing, 2006).
Pembangunan Pura Puseh Bale Agung
Di zona utama (parhyangan), masyarakat mulai membangun Pura Puseh Bale Agung sebagai pusat kegiatan keagamaan desa. Pembangunan ini dilakukan oleh kelompok masyarakat yang dikenal sebagai “desa seket” yang berjumlah 50 KK.
Peletakan batu pertama ditandai dengan adanya dua batu besar menyerupai lingga, yang diyakini sebagai stana Bhatara Ratu Lingsir. Dalam perspektif arkeologi dan simbolisme Hindu, lingga merupakan representasi kekuatan kosmis Dewa Siwa (Goris, 1960).
Peran Tiga Dadia
Pembangunan Pura Puseh Bale Agung melibatkan Desa Seket dan tiga kelompok kekerabatan utama (dadia), yang memiliki fungsi religius dan administratif:
Dadia Ibu Kanginan
Mendirikan Gedong Pengayengan Gunung Lempuyang (Hyang Gnijaya)
Berperan sebagai Kubayan (pemimpin adat)
Dadia Penataran
Mendirikan Pengayengan Ratu Bagus
Berperan sebagai juru guet atau Penyarikan (sekretaris)
Dadia Pejenengan
Mendirikan Gedong Pengayengan Gunung Tulukbiyu bertugas dalam panyenengin upakara yadnya.
Keberadaan dadia sebagai unit sosial menunjukkan pentingnya sistem kekerabatan dalam organisasi masyarakat Bali (Geertz, 1973).
Selain itu, dibangun pula pelinggih lain seperti Bale Agung yang difungsikan sebagai stana Dewa Brahma serta gedong di bagian belakang sebagai tempat pemujaan Tri Purusa Dewi, yang mencerminkan konsep teologi Hindu tentang manifestasi Tuhan dalam tiga aspek utama (Titib, 2003).
Sistem Ayahan dan Pengelolaan Pura
Seiring perkembangan waktu, lima puluh anggota desa seket memperoleh tanah ayahan masing-masing sekitar 1 hektar. Tanah ini digunakan untuk mendukung pelaksanaan kewajiban adat dan operasional pura Puseh Bale Agung.
Sistem ayahan ini merupakan bentuk integrasi antara struktur sosial, ekonomi, dan religius dalam masyarakat Bali tradisional (Lansing, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa keberlangsungan pura tidak hanya bergantung pada aspek spiritual, tetapi juga pada sistem pengelolaan sumber daya yang terorganisir.
Kesimpulan
Sejarah Pura Puseh Bale Agung Desa Adat Tegenan mencerminkan dinamika adaptasi masyarakat Bali dalam menghadapi perubahan kondisi sosial dan lingkungan. Perpindahan desa, penerapan konsep Tri Mandala, serta peran kolektif dadia dan sistem ayahan menunjukkan adanya struktur sosial-religius yang kuat dan berkelanjutan.(manixs)
Daftar Pustaka
Ardika, I Wayan. (2013). Sejarah Bali: Dari Prasejarah Hingga Modern. Udayana University Press.
Covarrubias, Miguel. (1937). Island of Bali. New York: Alfred A. Knopf.
Eiseman, Fred B. (1990). Bali: Sekala and Niskala. Singapore: Periplus.
Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Geertz, Clifford. (1980). Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali. Princeton University Press.
Goris, R. (1960). Prasasti Bali. Bandung: Masa Baru.
Lansing, J. Stephen. (2006). Perfect Order: Recognizing Complexity in Bali. Princeton University Press.
Reuter, Thomas A. (2002). Custodians of the Sacred Mountains. Honolulu: University of Hawai‘i Press.
Titib, I Made. (2003). Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

n.jpg)
.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)



.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
