Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, Pemerintah Desa Menanga menggelar lomba kebersihan setra (cetra) beserta lingkungan sekitarnya, termasuk kawasan Pura Dalem di seluruh Desa Adat se-Desa Menanga.
Perbekel Desa Menanga, I Made Hendra Sagita, saat diterima di
Pura Dalem Putra, Desa Adat Tegenan, menjelaskan bahwa tujuan utama pelaksanaan
lomba ini adalah untuk mendukung pelestarian adat, seni, dan budaya Bali.
“Sesungguhnya setra merupakan tempat suci yang patut kita sakralkan,
bukan untuk ditakuti karena konotasinya yang menyeramkan. Setra justru harus
disucikan dengan menjaga kebersihan dan kelestariannya,” ujar Hendra Sagita.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan antusias
dari jajaran prajuru Desa Adat dan prajuru Banjar Adat Tegenan Kelod yang hadir
secara lengkap dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Tim Penilai Kasi Pelayanan Umum Kantor Kecamatan Rendang, I Made Mertha, mengungkapkan bahwa lomba ini bukan semata-mata untuk mencari juara.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya melestarikan warisan
leluhur yang pada akhirnya akan menjadi tempat peristirahatan seluruh umat
manusia.
“Kriteria penilaian meliputi kebersihan area pura dan setra, estetika
lingkungan, kelengkapan sarana dan prasarana, serta keberadaan pohon-pohon
perindang seperti kayu pule, kepuh, randu, jepun, dan jenis lainnya yang
berfungsi sebagai penjaga kelestarian lingkungan sekaligus paru-paru desa
adat,” jelasnya.
Bendesa Adat Tegenan I Ketut Wana yasa dalam sambutannya
menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus apresiasi atas program lomba
kebersihan setra yang digagas Pemerintah Desa Menanga.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena dapat menjadi motivasi bagi
masyarakat untuk terus menjaga kebersihan dan kelestarian setra sebagai bagian
dari warisan adat dan budaya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Mangku Manik, selaku Klian Pura Dalem
Putra sekaligus Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, memaparkan sejarah singkat
Desa Tegenan sebagai desa pregunung . Ia menjelaskan bahwa pada masa lampau
Pura Dalem berada di wilayah Tegenan Kaja. Namun, pada masa pemerintahan Maya
Denawa yang dikenal menentang pemujaan kepada Tuhan, pura tersebut dipindahkan
ke wilayah Tegenan Kelod demi menghindari ancaman yang ada saat itu.
Peristiwa tersebut, menurutnya, masih dihubungkan dengan sejumlah nama
tempat yang ada hingga kini, seperti Pelihatan, Pengadangan, Tegal Saab,
Munggal, dan beberapa lokasi lainnya.
Mangku Manik juga menjelaskan konsep penataan Setra Tegenan yang dikenal
dengan Setra Gandamayu Nganutin Karang Awak, yaitu konsep yang memaknai
area setra sebagai representasi tubuh manusia atau Bhuana Alit.
Dalam konsep tersebut, bagian telapak kaki dianalogikan sebagai Candi
Bentar Setra, betis sebagai Setra Rare, paha sebagai Setra Bajang, bokong
sebagai Setra Salah dan Ulah Pati, pusar sebagai pelinggih Sanghyang Baerawi,
badan sebagai Setra Tua, leher sebagai Setra Suci yang diperuntukkan bagi
pemangku dan penglingsir desa, kepala sebagai tempat pelaksanaan ngaben, serta
ubun-ubun sebagai linggih Prajapati.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa keberadaan setra tidak hanya
memiliki fungsi sebagai tempat pemakaman, tetapi juga mengandung nilai
filosofis dan spiritual yang sangat luhur dalam kehidupan masyarakat adat Tegenan.(manixs)
Dihadiri sekcam,perbekel,PHDI saat pemlaspasan cetra




