Kamis, 11 Juni 2026

Lomba Kebersihan Setra Jadi Upaya Pelestarian Adat dan Budaya di Desa Menanga

Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, Pemerintah Desa Menanga menggelar lomba kebersihan setra (cetra) beserta lingkungan sekitarnya, termasuk kawasan Pura Dalem di seluruh Desa Adat se-Desa Menanga.

Perbekel Desa Menanga, I Made Hendra Sagita, saat diterima di Pura Dalem Putra, Desa Adat Tegenan, menjelaskan bahwa tujuan utama pelaksanaan lomba ini adalah untuk mendukung pelestarian adat, seni, dan budaya Bali.

“Sesungguhnya setra merupakan tempat suci yang patut kita sakralkan, bukan untuk ditakuti karena konotasinya yang menyeramkan. Setra justru harus disucikan dengan menjaga kebersihan dan kelestariannya,” ujar Hendra Sagita.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan antusias dari jajaran prajuru Desa Adat dan prajuru Banjar Adat Tegenan Kelod yang hadir secara lengkap dalam kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua Tim Penilai Kasi Pelayanan Umum Kantor Kecamatan Rendang, I Made Mertha, mengungkapkan bahwa lomba ini bukan semata-mata untuk mencari juara. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya melestarikan warisan leluhur yang pada akhirnya akan menjadi tempat peristirahatan seluruh umat manusia.

“Kriteria penilaian meliputi kebersihan area pura dan setra, estetika lingkungan, kelengkapan sarana dan prasarana, serta keberadaan pohon-pohon perindang seperti kayu pule, kepuh, randu, jepun, dan jenis lainnya yang berfungsi sebagai penjaga kelestarian lingkungan sekaligus paru-paru desa adat,” jelasnya.

Bendesa Adat Tegenan I Ketut Wana yasa dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus apresiasi atas program lomba kebersihan setra yang digagas Pemerintah Desa Menanga.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan dan kelestarian setra sebagai bagian dari warisan adat dan budaya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Mangku Manik, selaku Klian Pura Dalem Putra sekaligus Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, memaparkan sejarah singkat Desa Tegenan sebagai desa pregunung . Ia menjelaskan bahwa pada masa lampau Pura Dalem berada di wilayah Tegenan Kaja. Namun, pada masa pemerintahan Maya Denawa yang dikenal menentang pemujaan kepada Tuhan, pura tersebut dipindahkan ke wilayah Tegenan Kelod demi menghindari ancaman yang ada saat itu.

Peristiwa tersebut, menurutnya, masih dihubungkan dengan sejumlah nama tempat yang ada hingga kini, seperti Pelihatan, Pengadangan, Tegal Saab, Munggal, dan beberapa lokasi lainnya.

Mangku Manik juga menjelaskan konsep penataan Setra Tegenan yang dikenal dengan Setra Gandamayu Nganutin Karang Awak, yaitu konsep yang memaknai area setra sebagai representasi tubuh manusia atau Bhuana Alit.

Dalam konsep tersebut, bagian telapak kaki dianalogikan sebagai Candi Bentar Setra, betis sebagai Setra Rare, paha sebagai Setra Bajang, bokong sebagai Setra Salah dan Ulah Pati, pusar sebagai pelinggih Sanghyang Baerawi, badan sebagai Setra Tua, leher sebagai Setra Suci yang diperuntukkan bagi pemangku dan penglingsir desa, kepala sebagai tempat pelaksanaan ngaben, serta ubun-ubun sebagai linggih Prajapati.

Penjelasan tersebut menegaskan bahwa keberadaan setra tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat pemakaman, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan spiritual yang sangat luhur dalam kehidupan masyarakat adat Tegenan.(manixs)


Cetra sebelum digarap

Konsep Cetra ganda Mayu Nganutin Karang Awak


Saat penggarapan oleh krama

Membuat design


Candi bentar ibarat telapak kaki Usai penataan

depan cetra

Prasasti cetra(sudah hanyut karena bencana banjir)


 Dihadiri sekcam,perbekel,PHDI saat pemlaspasan cetra

Tim penyambutan dan pendamping lomba cetra desa menanga 10 Juni 2026








 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar