Selasa, 20 Juni 2017

MITOLOGI PURA PEKANDELAN DESA PAKRAMAN TEGENAN



Desa Pakraman Tegenan yang merupakan teritotorial kawa-san suci Pura Besakih dan merupakan salah satu Desa Pre-gunung yang diberi kewajiban ‘mundut’ Ida Betara Dalem Puri Besakih,memiliki historis yang sangat religius, lebih lebih merupakan salah satu  desa sebagai lawangan Agung Pura Besakih bagian Pascima/barat, disamping Desa Pakraman Batusesa sebagai gerbang/ lawangan Purwa/Timur. Desa ini terdiri dari Br.Tegenan Kaja dan Br. Tegenan Kelod yang dulunya dikenal sebagai Tegenan Desa, sebagai pusat permukiman pada zaman dahulu, sekitar abad ke 18 terbukti dengan adanya Pura Kahyangan Tiga dan setra, kemudian dengan batas utaranya di Pangkung Cinang sebagai tanggun desa utara ketika mengadakan upacara pecaruan sasih pitu kulu dan Pr.Pekandelan sebagai benteng(pekandel) utaranya dan margi tiga batas selatan serta Pr.Tulak Tanggul sebagai benteng selatannya. Kemudian seiring perkembangan zaman maka sekitar akhir abad 20 mulailah penduduk pindah kewilayah utara,sehingga pembangunan permukiman mulai bergeliat menuju pinggir jalan. Kesadaran masyarakat akan peningkatan harkat hidupnya mulai kelihatan,baik dalam pembangunan Parhyangan ,Pawongan dan Palemahan,baik secara sekala dan niskala.
Petunjuk niskala yang menghebohkan terjadi pada sasih Kesanga hingga Kedasa bulan Maret dan April 2002 sembilan orang krama ‘kerauhan’ natak wecanan Ida Betara-Betari sesuhunan, agar kehidupan beragama dan bermasyarakat dikelola dan ditata dengan baik melalui pembangunan dan penataan pura, pura yang belum mendapat perhatian antara lain Pura Taru Petak,Tegal Saab, Pura Manik Gni,Pura Pekandelan,Pura Gua Gala Gala,Pura Pucak Sari,Pura Tulak Tanggul, Pangkung Cinang dll.
Sesuai petunjuk niskala(kerauhan) waktu itu, agar Pura Pekandelan yang dulu sudah pernah ada ‘bebaturan’tahun 1963 hancur karena bencana gunung agung meletus (buktinya setiap ada upacara ngaben habis ngayehang sekah lewat disana pasti ada upacara mamitang ),pura itu harus segera dibangun karena disana stana Ratu Gde Pekandel  benteng kekuatan Desa Tegenan.
Ada kejadian unik waktu itu,saya sebagai Klian Banjar Adat Tegenan Kelod natak penikan Ida Sesuunan belum sempat membuatkan pelinggih, suatu ketika melintas di areal pekandelan membawa cary pic up sampai di selatan kunci mobil yang sedang jalan hilang,setelah dicari di mobil kemudian di jalan tidak ketemu,setelah mesesangi /janji untuk mendirikan akhirnya ketemu di tikungan pekandelan pada hal di dek bawah tidak ada lubang,mustahil meloncat. Akhirnya segera saya ngaturang pelinggih PC dan mendirikan disana seijin Beli Km Darma sebagai pemilik tanah sejak April 2002.
Lanjut atas bantuannya tanggal 24 April 2017 mulai didirikan Pura Pekandelan yang dipelaspas hari ini Sukra Wage Uye 23 juni 2017 dengan sumber dana :
1.        BKK Provinsi Bali th.2017                        : Rp.11.500.000,-*)
2.        Punia dari krama Br.Kaleran                   : Rp.  2.050.000,-
3.        Krama Br.Adat Kelodan                          : Rp  .6.570.000,-
4.        Kelompok Organisasi                               : Rp.  2.800.000,-
5.        Beberapa krama dura/luar desa             : Rp.     260.000,-.
6.        Kas Desa Pakraman                               : Rp.  6.069.000,-*)
Pengeluaran:
a.        Beli Bataran gedong dari Batu                : Rp.  5.000.000,-
b.        Beli Gedong pd.guru Megeng                 : Rp  .4.500.000,-
c.        Beli 2 patung +transport                          : Rp.  1.000.000,-
d.        Biaya tembok penyengker                       : Rp.15.950.000,-
e.        Pembelian babi,busana,ulam, pglm,pdg,dll-: Rp.   1.500.000,-
f.         Biaya buruh persiapan,banten,snek dll    : Rp.      749.000,-
g.        Batu sikat pada Yan Dana                       : Rp.      550.000,-
Jumlah Pengeluaran/masuk               : Rp.29.249.000,-

*) dana yang masih ditalangi oleh Koperasi Mekar Sari & LPD.
Sedangkan banten mlaspas,caru dan mungkah : pesuan Krama Kelodan.


FUNGSI PURA PEKANDELAN
            Menurut petunjuk beliau pada saat itu (2002) bahwa yang distanakan disana adalah Ratu Gde Pekandel ,beliau adalah rencang Ida Betari Dalem Rajapati yang bertugas menjaga benteng kekuatan Desa Tegenan bagian utara dan Ratu Gde Tulak Tanggul (Sanghyang Suratma) menjaga benteng selatan oleh karenanya pada saat upacara Pitra Yadnya sanghyang atma/sekah yang selesai disucikan ke beji campuan di kedua tempat ini wajib diadakan upacara mamitang oleh karenanya betapa pentingnya kedua pura ini bagi kita semua,sebab bagaimanapun kita, setelah jadi atma untuk diabenkan akan dipujakan di pura ini.
            Disisi lain Ratu Gde Pekandel sesuai sabda beliau juga sebagai rencang Betara Sangkara/ Sang Hyang Sengawa Gumi oleh karena itu di Pura ini juga difungsikan sebagai tempat melaksanakan upacara Mungkah/ngendagin dan amaluku sebagai awal melakukan aktivitas/peker-jaan di gaga/tegalan.
Menurut Lontar Sarining Dharma pemaculan yang disarikan dari lontar milik Gria Pidada Karang-asem,Gria Intaran Delod Pasar Sanur, Perpus-takaan Lontar Gedong Kertya Singaraja, Yayasan Dharma Sastra, Perpustakaan Lontar Pusdok Kebudayaan Bali bahwa upacara mungkah gaga bantennya adalah sebagai berikut:
Ø  Canang lengawangi burat wangi,medaging Woh-wohan,Base,don selasih,kembang pa-yas mewadah tamas busung/ntal, katur ring Betara Sangkara (Ong Bhetara Sangkara, Sangkara wastu ya nama swaha)
ü  Tamas ental/busung medasar kasa putih masusun woh-wohan,sanganan,sekar  sar-wa petak,nasi kepelan putih 5 kepel ,mesawen/pepuun carang pucuk putih katur ring Sanghyang Iswara Guru.
ü  Kelengkapan banten/acara lainnya  disesu-aikan dengan tradisi setempat.
Dalam  rangkaian  upacara mungkah di Pr.Pekandelan hendaknya sejalan dengan   tatanan Sad Kertih dapat dijelaskan sebagai berikut :
ü  Pertama: Atman Kertih(penyucian jiwa)   setiap bentuk yadnya perlu dilakukan dalam penyesuaian pola hubungan antara parahyangan , palemahan dan pawongan harus menyatu dalam satu  keyakinan yang seimbang (Tri Hita Karana).
ü  Kedua : Jana Ketih, jiwa dan kesadaran yang menyatu dengan alam lingkungan (pawongan)
ü  Ketiga: Wana Kertih,   penyucian dan pelestarian hutan/tumbuhan
ü  Keempat : Danu Kertih . penyucian dan meme-lihara kwalitas air
ü  Kelima: Segara Kertih. Memelihara ekosistem dan mengurangi penggunaan pestisida lebih menggunakan  pupuk alami Mikroba Olah Lokal di desa sekitarnya.
ü  Keenam: Jagat Kertih. Makna “jagat” disini adalah semesta baik dalam wilayah kesadaran parahyangan, palemahan atau pawongan. Terpeliharanya alam lingkungan yang seimbang akan terjadi jika pola kehidupan manusia masih menjalankan dan meyakini kelima kertih di atas.
Mari tegen dan lestarikan budaya leluhur yang adiluhung dan tinggalkan budaya yang kurang baik demi kelangsungan anak cucu kita.(manixs).



Pelinggih saat sebelum dipugar
 Ngingsirang Ida Betara sebelum dipugar oleh Jero Lingsir Mk.Md.Sedana spiritualis supranatural yang sudah pakar di dunia ghoib dengan berbagai pengalaman spiritual,meditasi di pura-pura sepelosok nusantara.
 
Mendem dasar pelinggih oleh Ketua Panitia atas petunjuk 
penglingsir spiritual Pasraman Giri Candi Kusuma
Mk.Ayu Manik dan krama sekitar melakukan persembahyangan tiap sore selama Ida Bhetara nyejer dari tanggal 24 April 2017 hingga upacara pemlaspasan 23 Juni 2017
 
Pendirikan gedong oleh pemborong CV.Megeng Jaya Abadi
                                   Kru pengayah yang aktif membantu kegiatan pembangunan pura
                                                      Penataan taman menjelang finishing
                   Mk Dalang Sujata perancang dan penataan taman sponsor pembuatan tulisan pura
                                         Pembangunan pura finish 100%,21 Juni 2017

 Persiapan sebelum upacara mlaspas
 Upacara Mlaspas yang dihadiri oleh seluruh krama Banjar Kelod
Prejuru Desa,Pemangku,Serati,WHDI dan Pecalang serta pengiring sesuunan 2002
Jero Dewi,I Wayan Tana,I Nym.Punduh,Nym.Reguna,Md.Kembar,Pt.Tunjung.
 Nedunang dan ngelinggihang Ida ratu Gde Pekandel oleh pengiring 2002
 Upacara Mlaspas oleh JM Md.Sedana,Mungkah oleh JM Kt.Kania
 Pengantar acara oleh Penyarikan Desa (I Ketut Wana Yasa,A.Md.Par)
 Laporan pemungutan punia oleh Sekretaris Panitia Ni Kadek Ririn Susanti,S.Pd.
 Penyerahan Surat Perjanjian pemberian luput nyayahin dan tedun istrine
 oleh Bendesa kepada I Komang Darma(Pemilik Tanah) sebagai konpensasi lokasi pura
disaksikan Klian Br.Adat Tegenan Kelod dan Ketua Paguyuban Pemangku DK.DP.Tegenan
 Mendem caru dan upacara Mungkah sebagai tanda dimulainya 
mengolah tanah di gaga/tegalan,untuk mohon kesuburan dan keberkahan.
Malam 2 hari setelah di plaspas
 Upacara ngelemekin 3 hari setelah ngelinggihang (26-6-20170
 Upacara ngetelunin dengan bakti pejati dan tipat blayag
 Pemangku penganteb : Mangku Ketut Kania
 Lantunan gegitaan mengiringi upacara oleh bibi Megeng,Bibi Karmiasih dan Bibi Pandi Arini
 Nunas lungsuran sebagai wujud syukur atas selesainya rangkaian upacara
 Mk.Dalem sedang menyaksikan acara nunas lungsuran bersama.
Pembangunan Pura Pekandelan di'plaspas' pada  Sukra Wage Uye bertepatan dengan tilem Sadha tanggal 23 Juni 2017 pas Matahari berada di garis balik utara lintang 23,5 derajat ,semoga dengan hari baik mendatangkan kebaikan, kerahayuan di bumi pertiwi Tegenan pregunung vilage,astungkara.(by. Mangku Manik Puspa Yoga)



Panitia Pelaksana  :
1.Penanggungjawab : I Md.Sedana (Bendesa Desa Pakraman Tegenan)
2.Ketua                 : I Wayan Suiji (Klian Br.Adat Tegenan Kelod)
3.Sekretaris           : Ni Kadek Ririn Susanti,S.Pd (Ketua WHDI Desa Pakraman Tegenan)
4.Bendahara          : I Made Lanus (Kasir Kop.Mekar Sari)
5.Seksi-seksi;
  a.Pelaporan          : I Ketut Wana Yasa (Penyarikan Desa Pakraman Tegenan)
  b.Penataan           : Mk.Dalang Sujata (Seniman Lukis dan Dalang pengiring di Pr.Dalem)
                                I Wayan Kariana,S.Pd,S.Sos (Klian Subak Abian Pucak Manik)
  c.Penggalian Dana;
1.      Luh Meradi (Ketua KWT.Mekar Wangi/Kasir LPD)
2.      I Wayan Samah(Pegawai LPD)
3.      Mangku Krisna(Pemangku Dalem Suci)
4.      I Gde Adnyana (Tokoh masyarakat)
5.      I Made Mustapa (Klian Br.Dinas Tegenan)
6.      Guru Wayan Megeng (Pecalang)
7.      Guru Wayan Sandiarta(Klian Dadia Ps.Celagi)
        d.Tanah lokasi : I Komang Darma (donatur)
        e.Upakara/banten : Ni Md.Karmiasih (Ketua Paguyuban Serati Banten Bakti Jnana DP.Tegenan)
     6.Penasehat :
        1. Jero Wayan Degeng (Ketua Paguyuban Pinandita Dharma Kerthi DP.Tegenan)
        2. Mk.Wayan Sudiana (Ketua Kerta Desa DP.Tegenan)
        3. Mk.Wayan Kunci Wirawan (Klian Br.Adat Tegenan Kaler)
 

Kamis, 13 April 2017

DARMA SANTHI DI BANJAR ADAT TEGENAN KELOD



Perayaan menyembut Tahun Baru caka dan rangkaiannya adalah agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun peralihan antara sasih kesanga dan kedasa oleh krama Banjar di jagat Bali. Sehubungan dengan hal tersebut Banjar Adat Tegenan Kelod kali ini menyelenggarakan dengan penuh hikmat dimulai dengan acara matur piunng ,meprasista di Pura Dalem,Dalem Rajapati,Tulak Tanggul, Pekandelan dan pura lainnya. Selanjutnya mulai sasih Kepitu Kaulu telah diselenggarakan Pecaruan di Margi Tiga dan Pangkung Cinang,Pekandelan,Pengadangan,Bale Patok,Tulak Tanggul dan Pura Dalem yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman yang diempon krama Banjar Adat Tegenan Kelod. Barulah pada tilem sasih kesanga diselenggarakan upacara Taur Kesanga di Catus Pata /Margi Catur ,dengan menggunakan dasar ayam manca, dikwidik/penyirang dan banteng yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman yang diempon krama Banjar Adat Tegenan Kaler. Usai menyelenggarakan taur dibagikan tirta dan nasi taur yang di’tunas’di Besakih lanjut digunakan dirumah masing-masing untuk acara ngerupuk pada pukul 17.00-18.00 Wita.
Keesokan harinya 28 Maret 2017 mulai jam 06.00 Wita hingga keesokan harinya jam 06.00 adalah HARI RAYA NYEPI dengan melaksanakan Catur Berata Penyepian. Pelaksanaan Nyepi tahun caka 1939 dipantau oleh Penyarikan Desa,Klian Banjar Tegenan Kelod bersama Pecalang ,kali ini berjalan tertib aman dan lancar walaupun dijumpai ada beberapa sedang kepergok di jalan tapi sifatnya mendesak,anaknnya mau belanja di dekat rumahnya,sedangkan wilayah Delod Sema diberikan ‘dispensasi’ karena persiapan perkawinannya I Gd Sumedana dan Ni Wayan Sumerti.
Setelah Nyepi dilanjutkan dengan Ngembak Gni yang diisi dengan acara Dharma Santi pada pukul 16.00 Wita di Pura Dalem yang dilakukan sangat sederhana melalui ucapan syukur dengan pelaksanaan persembahyangan bersama yang dihadiri oleh krama Banjar,Serati Banten,WHDI,Pecalang,Penyarikan Desa,Klian Puseh.
Mk.Manik Puspa Yoga selaku Klian Banjar Adat Tegenan Kelod dalam sambutan tunggalnya menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih atas dukungan krama,Serati Banten,WHDI,Klian Banjar Dinas ,Seka Teruna Pecalang dan prejuru serta Bendesa dengan Penyarikannya, yang telah bahu membahu melaksanakan program Banjar  Adat Khususnya dan Desa Pakraman Pada Umumnya,serta mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam mengantarkan program krama ada yang kurang berkenan dengan harapan semoga Tuhan memberkati kita semua menuju Tegenan Kelod yang Widya Kerta Mandala,pungkasnya.(by.wull@n)

 Krama potong Sapi untuk persiapan taur kesanga 1939
suasana pada saat pelaksanaan upacara taur kesangan

 Krama antusias mendengarkan pengarahan Bendesa ttgn.Nyepi
 Pengarahan Klian Br.Adat Tegenan Kelod dlm.rangka patroli nyepi
 Krama dan perwakilan organisasi saat Dharma Santi 1939
Sambutan tunggal KBA.Tegenan Kelod serangakaian Darma Santi
Klian Puseh dan Jero Dalang



 
 WHDI melaksanakan rapat rutin DARMA SANTI 1939

  
Merupakan penutup tahun caka 1938 dan rangkaian upacara caka 1939 dari mecaru,kesanga,ngerupuk dan darma santi maka diadakan upacara Penyineb di Pura Mrajapati/Betari Durga.
diselenggarakan oleh Desa Pakraman bekerjasama dengan Paguyuban Serati Banten Sekar Wangi, pada hari Selasa,11 April 2017 
(Purnama Kedasa)
AUM ANOBADRAH KRATAVOUAMTHU VISVATAH
(Semoga fikiran yang baik datang dari segenap penjuru)