Pura Dalem
Putra yang terletak di Banjar Adat Tegenan Kelod merupakan salah satu pura penting
dalam struktur Kahyangan Tiga Desa,Desa Adat Tegenan. Pura ini diperkirakan telah berdiri sebelum
masuknya pengaruh Dang Hyang Dwijendra di Bali. Hal ini dapat dilihat dari
tidak ditemukannya bangunan padmasana pada masa awal pendiriannya. Struktur
awal pura hanya terdiri dari sebuah gedong bata sebagai bangunan utama serta
empat bebaturan mengelilinginya, yang dipercaya sebagai tempat berstana
pengabih Ida Betara Dalem,ditambah bangunan pendukung seperti bale gong dan
bale pebatan. Barulah kemudian mulai tahun 1995 dengan klian baru mulai ditata
dan dirintis direnovasi ditambah dengan bangunan penegtegan,bale pesanekan,bale
peselang. Sasih kesanga tahun 2002 ada 9 orang kesurupan dari Banjar Adat Tegenan Kaler selama 42 hari salah satu petunjuknya adalah agar klian bersama krama pengempon melengkapi dengan mebangun pelinggih
Taksun Jagat yang berupa Padmasana Ageng medasar Bedawangnala nyujur
langit. Kemudian due-due yang berupa wayang,keris ,telek,jauk dan uang kepeng
yang masih dirumah pribadi agar dikembalikan ke pura dan dibuatkan penyimpenan/gedong simpen untuk
menyimpan duwen Ida Bhetara dan Telek,Jauk,petapakan Betara Prajapati agar
diwujudkan kembali termasuk barong bangkung yang ada di Tulak Tanggul.
Di area pura juga terdapat dua pohon jepun Bali yang besar dan kokoh.
Keberadaan pohon ini diyakini sebagai cikal bakal atau tonggak awal berdirinya
Pura Dalem Putra.
Asal Usul Desa dan Perpindahan Pemukiman
Pada masa pemerintahan Raja Mayadenawa, pemukiman penduduk awal yang
dikenal sebagai Desa Pikulan berada di wilayah utara, sekitar 2 km di selatan
Dalem Puri yang disebut Kuuman Dalem. Kuburan (setra) masyarakat juga berada di
wilayah tersebut.
Namun, akibat larangan Raja Mayadenawa terhadap praktik pemujaan kepada
Tuhan, masyarakat kemudian berpindah ke arah selatan untuk mencari kebebasan
beribadah. Di tempat baru ini, mereka membangun kembali pemukiman beserta
Kahyangan Tiga, termasuk memindahkan setra dan mendirikan kembali Pura Dalem.
Pura Dalem yang baru ini kemudian dinamakan Pura Dalem Putra,
sebagai bentuk kesinambungan atau keturunan dari Dalem lama di Kuuman Dalem. Dalem lama selanjutnya dikenal dengan sebutan Pura
Dalem Suci, sedangkan Dalem yang baru disebut Dalem Putra. Wilayah pemukiman
baru ini kemudian dikenal sebagai Tegenan Desa.
Perkembangan Masyarakat dan Desa Adat
Seiring
berjalannya waktu, jumlah warga yang awalnya sekitar 33 kepala keluarga
mendapatkan lahan pekarangan baru yang disebut Desa Karang. Masyarakat di
wilayah ini memiliki kewajiban khusus, yaitu mundut Ida Bhatara di Besakih
saat pelaksanaan upacara Melasti.
Jumlah
penduduk kemudian berkembang menjadi sekitar 50 kepala keluarga. Dengan
bertambahnya jumlah krama, masyarakat membangun Pura Puseh Bale Agung yang
kemudian dikenal sebagai Desa Seket. Desa ini memiliki kewajiban ngempon
Pura Puseh dan melaksanakan upacara di Ngusaba Nini di Pura Puseh dan Ngusaba
Pitra di Dalem Suci. Sedangkan Ngusaba Tegen di Bale Agung dilaksanakan oleh
krama banjar.
Peran Tiga Dadia Perintis
Terdapat tiga
dadia utama yang merintis dan memegang peranan penting dalam struktur sosial
dan keagamaan desa, yaitu:
- Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan (bergelar Pasek Kubayan)
- Bertugas
sebagai pemimpin desa (Kubayan)
- Berperan
sebagai pengambil keputusan utama (pemutus desa)
- Memiliki
kewajiban ngawa surat pepegat saat prosesi pemangku dan kelian meserah
sampelan di Bale Agung, serta dalam pelaksanaan upacara ngaturang punagi.
- Berwenang memutuskan pelaksanaan Pitra Yadnya di Ratu Dukuh ketika
tidak terdapat sulinggih
- Dadia Penataran
- Berperan
sebagai juru guet (sekretaris desa)
- Dadia Pejenengan
- Bertugas sebagai juru penyeneng atau pengelola wewantenan
(sarana upacara)
Seluruh struktur, peran, dan kewajiban ini tercatat dalam lontar tanpa
surat sebagai pedoman adat yang diwariskan secara turun-temurun.(manixs,dirangkum
dari berbagai sumber)

n.jpg)
.jpeg)



.jpeg)