Rabu, 28 Januari 2026

SMP Negeri 3 Rendang Lantik Pengurus OSIS di Pura Gua Gala-Gala

Media Manixgni– Bertepatan dengan hari suci Anggara Kasih Tambir, Selasa, 13 Januari 2026, SMP Negeri 3 Rendang melaksanakan pelantikan pengurus OSIS serta pengurus lembaga organisasi siswa lainnya. Kegiatan sakral tersebut berlangsung di Pura Gua Gala-Gala, Banjar Adat Tegenan Kelod.

Panitia pelaksana kegiatan, Ni Kadek Ririn Susanti, S.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi pelantikan di Pura Gua Gala-Gala merupakan bentuk pengenalan lingkungan sekaligus upaya mendekatkan siswa dengan alam spiritual.

“Jika jiwa manusia dilandasi dengan spiritual yang kuat, maka akan lahir generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan yang terpenting berkarakter atau berbudi pekerti luhur,” ujarnya.

Pembina kesiswaan SMP Negeri 3 Rendang, Ida Ayu Nyoman Okayani, S.Ag., menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi melukat sebagai simbol pembersihan diri dari segala mala atau kekotoran. Selanjutnya dilaksanakan persembahyangan bersama untuk memohon restu kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Gua Gala-Gala.

“Melalui persembahyangan ini, kami mohon agar anak-anak kami mendapatkan tuntunan dan jalan terang dalam melaksanakan tugas organisasi, meraih cita-cita, serta tumbuh menjadi anak-anak yang suputra,” harapnya.

Prosesi persembahyangan dipimpin oleh Jero Mangku Manik . Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan sejarah berdirinya Pura Gua Gala-Gala beserta manifestasi yang dipuja di tempat suci tersebut.

Menurut Jero Mangku Manik, Pura Gua Gala-Gala bermula sekitar tahun 1957, didirikan oleh seorang pengangon bebek yang kehilangan ternaknya. Dalam pencarian tersebut, ia menemukan sebuah goa yang di dalamnya terdapat sumber air luas menyerupai danau. Goa tersebut dikenal memiliki tiga rongga dengan suara gemuruh menyerupai ombak kecil dan disebut Danau Mengkeb. Ia berkaul bahwa apabila bebeknya ditemukan, maka akan dibangun bebaturan di lokasi tersebut.

Namun pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, bebaturan tersebut tertimbun lahar dingin. Pada tahun 1972 dilakukan penggalian kembali sumber mata air untuk dialirkan ke wilayah Rendang. Sejak saat itu, kerap terjadi kejadian-kejadian niskala seperti terdengar suara aneh dan penampakan ular besar, sehingga dibangunlah patung serta pelinggih.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 2002 terjadi peristiwa kesurupan massal di lokasi tersebut. Melalui pawisik, dititahkan pembangunan pura yang kemudian diberi nama Pura Gua Gala-Gala. Di pura ini distanakan Gedong Pengayengan Pura Dalem Puri Besakih, Betara Ananta Bhoga, serta Betara Sri Mas Amertha, dengan penglukatan Panca Amertha yang disimbolkan melalui lima pancuran.

Seiring waktu, banyak umat dari berbagai daerah seperti Singaraja, Gianyar, Badung, Kubu, Tambahan, Tajun, dan wilayah lainnya datang nangkil. Mayoritas umat menyampaikan bahwa kehadiran mereka berdasarkan petunjuk spiritual dari mapinunas.

Pura ini juga dikenal dengan sebutan Pura Langse sebagai gerbang gaib menuju Pura Dalem Puri Besakih. Bahkan, menurut seorang tokoh spiritual, terdapat konektivitas spiritual antara Goa Lawah, Gua Gala-Gala, dan Gua Raja. Di Goa Lawah umat nunas Hyang, kemudian melukat di Gua Gala-Gala sebelum nangkil ke Dalem Puri, dan selanjutnya ke Gua Raja untuk memohon tirtha amerta.

Usai kegiatan tersebut, Jero Mangku Manik juga memberikan dukungan moril kepada Ketua OSIS dengan menyerahkan sumbangan sekadarnya,mengingat beliau juga mantan keluarga besar SMPN 3 Rendang.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Rendang yang diwakili oleh Jero Mk. Komang Aristana, S.Pd., salah seorang guru spiritual, menyampaikan apresiasi kepada pengempon Pura Gua Gala-Gala yang telah memberikan tempat untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Ia berharap agar para pengurus OSIS sebagai calon pemimpin siswa mampu melaksanakan tugas dengan baik serta senantiasa mendapatkan tuntunan dari Tuhan Yang Maha Esa.(manixs)

Mk.manik mengucapkan selamat kepada salah satu pengurus lembaga siswa

 Memberi suport kepada ketua OSIS

Ida Ayu Nyoman Okayani,S.Ag Pembina kesiswaan saat memberi arahan
pada pengurus OSIS yang akan dilantik




Seka Teruna Werdhi Sesana Laksanakan Aksi Mereresik di Kawasan Pura Dalem Puri Besakih

Media Manixgni – Seka Teruna (ST) Werdhi Sesana Banjar Adat Tegenan Kelod melaksanakan kegiatan mereresik atau kerja bakti pada Selasa, 27 Januari 2026, pukul 15.00–18.00 WITA. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Pura Dalem Puri, Pura Agung Besakih, dan diterima langsung oleh Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Wayan Mastra.

Ketua ST Werdhi Sesana, I Wayan Puspa Yoga, S.Pet., didampingi Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program kerja seka teruna di bidang palemahan. Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan kerja bakti atau ngaturang ayah sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan alam.

“Melalui kegiatan ini, kami mengajak sekitar 45 orang anggota untuk turut berpartisipasi membersihkan sampah-sampah sisa canang pasca upacara Ngusaba Pitra di Pura Dalem Puri, terutama sampah plastik yang sangat merusak lingkungan. Kami berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan, dan kegiatan serupa rutin kami laksanakan setiap bulan, khususnya di wilayah Banjar Adat Tegenan Kelod,” ujar Yoga.

Ia menambahkan, kegiatan mereresik tersebut sekaligus merealisasikan tiga program kerja seka teruna, yakni bidang parhyangan dengan ngayah ring Ida Bhatara, bidang pawongan melalui sosialisasi dengan masyarakat Besakih serta pihak pengelola kawasan, dan bidang palemahan dengan menjaga kebersihan serta keasrian lingkungan.

Sementara itu, Bendesa Desa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh para remaja desa. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud cinta terhadap desa adat sekaligus sebagai pembiasaan sebelum memasuki jenjang grihastha asrama.

“Dengan kegiatan seperti ini, generasi muda akan terbiasa dan siap mewarisi serta melanjutkan pelaksanaan adat istiadat ke depannya sebagai generasi penerus,” ujarnya.

Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Wayan Mastra, turut memberikan apresiasi atas partisipasi ST Werdhi Sesana dalam menjaga kebersihan lingkungan di kawasan Pura Besakih. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pelestarian adat, budaya, dan agama Hindu.

“Partisipasi generasi muda sangat diharapkan karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Semoga langkah kecil ini memberikan arti dan pengalaman yang baik bagi adik-adik kita sebagai penerus generasi Bali ke depan,” tutupnya.(manixs)





Dokumen aktivitas ngayah

Foto bareng usai kegiatan


Rabu, 07 Januari 2026

Paruman Agung Banjar Adat Tegenan Kelod Tetapkan Pengurus Masa Bakti 2025–2030

Karangasem— Banjar Adat Tegenan Kelod, Desa Adat Tegenan, pada Buda Wage Merakih, Selasa (6/1/2026), menyelenggarakan Paruman Agung dalam rangka pergantian pengurus (prejuru) untuk masa bakti 2025–2030. Paruman ini dilaksanakan menyusul wafatnya bendahara lama Banjar Adat Tegenan Kelod I Made Entegan.

Dalam paruman tersebut, Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, I Wayan Suiji, memaparkan laporan program kerja lima tahun sebelumnya hingga tahun 2025, sekaligus menyampaikan laporan keuangan banjar yang disimpan di KSP Mekar Sari. Adapun rincian dana tercatat dalam enam rekening, yakni Rekening Krama Banjar Jangkepan sebesar Rp59.206.000, Rekening Banjar Adat Rp15.486.000, Dana Gua Gala-Gala Rp518.000, Dana Tulak Tanggul Rp4.560.000, Kontribusi Telaga Surya Rp16.447.000, serta saldo Dana Punia sebesar Rp9.565.000.

Selanjutnya disampaikan pula program kerja masa bakti 2025–2030. Pada bidang Parhyangan, program diarahkan pada penyederhanaan upakara sesuai pelutuk bebantenan serta pelaksanaan upacara berdasarkan tingkatan nista, madya, dan utama.

Pada bidang Pawongan, direncanakan penataan keorganisasian banjar, penyusunan perarem khususnya terkait duktang, serta pengumpulan dana abadi melalui program Cingkreman Babuatan Desa (CBD) khusus krama istri. Program ini diharapkan dapat meringankan biaya operasional upacara serta membantu dana pendidikan berupa beasiswa bagi anak-anak cerdas dari keluarga kurang mampu.

Sementara itu, pada bidang Palemahan, direncanakan sejumlah pembangunan fisik secara bertahap, yakni pembangunan Jalan Arca Gua Gala-Gala pada tahun 2026, renovasi Pesamuan pada 2027, pembangunan tembok utara pada 2028, renovasi Penegtegan pada 2029, serta pembelian tiga unit jempana pada tahun 2030.

Dalam sesi pergantian pengurus, krama Banjar Adat Tegenan Kelod secara kompak menolak pergantian Klian Banjar. Melalui musyawarah mufakat, I Wayan Suiji kembali ditetapkan sebagai Klian Banjar Adat, demikian pula Penyarikan tetap dijabat oleh pengurus lama. Pergantian hanya dilakukan pada posisi bendahara karena bendahara sebelumnya telah meninggal dunia. Setelah sejumlah kandidat menolak, akhirnya secara mufakat I Made Warsa Wardana disepakati mengisi jabatan bendahara.

Bendesa Adat Tegenan, Jero Ketut Wana Yasa, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada prejuru lama atas dedikasi dan pengabdiannya. Ia juga mengucapkan selamat bekerja kepada pengurus yang dikukuhkan agar senantiasa ngayah nekeng tuas dalam menjalankan tugas.

Pada kesempatan tersebut, Bendesa Adat sekaligus mengukuhkan Prejuru Banjar Adat Tegenan Kelod dan Prejuru Pura Dalem masa bakti 2025–2030 dengan susunan sebagai berikut: Pemangku Pura Dalem dijabat oleh Jero Mangku Wayan Sulabayasa, Pemangku Wayang Telek dan Pura Gua Gala-Gala oleh Jero Mangku Dalang Sujata, Klian Banjar I Wayan Suiji, Penyarikan I Nyoman Selahdana, dan Juru Raksa I Made Warsa Wardana.

Adapun Juru Arah Tempek terdiri dari Tempek Lemo dijabat I Komang Gede Arta, Tempek Dauh Margi oleh I Made Suartana, Tempek Poh Tanggul oleh I Made Bakat Adnyana, serta Tempek Dangin Margi oleh Guru Wayan Wenten.tegas bendesa I Ketut Wana Yasa.(manixs)


Sambutan Bendesa I Ketut Wana Yasa
Pengukuhan Prejuru 2025-2030